Sebuah desa terpencil yang penduduknya sebagian besar bekerja sebagai petani dan berladang. Di desa itu terdapat sebuah gubuk tua yang ukurannya sangat kecil. Dindingnya terbuat dari bambu yang telah rapuh. Atapnya, hanya papan-papan lusuh yang lapuk. Jika angin besar datang, tidak dapat dipungkiri, kemungkinan besar gubuk tua itu akan rubuh terbawa angin. Jika hujan besar datang, kemungkinan juga akan hancur tergerus air banjir. Sangat tidak layak untuk ditempatkan oleh manusia. Gubuk tua itu dihuni oleh keluarga yang terdiri atas nenek yang sudah tua, anaknya beserta suaminya, dan cucu-cucunya.
Cucu yang paling tua bernama Brahma yang berusia sekitar 16 tahun. Brahma merupakan anak sulung dari lima bersaudara. Adik-adiknya masih bersekolah, sedangkan dia, dia harus melupakan cita-citanya menjadi seorang dokter. Setelah lulus SMP, dia harus berhenti sekolah karena orangtuanya tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah. Padahal, dia memiliki kemampuan lebih dalam bidang akademik. Ayahnya hanya berladang di ladang sempitnya dan ibu beserta neneknya hanya membuat berbagai kerajinan tangan di gubuk tuanya. Penghasilan yang didapat tidak seberapa. Untuk makan pun, sangat sulit. Cukup banyak perut yang harus diisi dengan makanan. Pekerjaannya sehari-hari setelah berhenti sekolah hanya membantu ayahnya di ladang sejak pagi hari hingga sore menjelang untuk membantu membiayai makan dan sekolah adik-adiknya. Dia tidak mau adik-adiknya harus berhenti sekolah sepertinya. Dia menginginkan adik-adiknya bisa menjadi orang di kemudian hari.
Terik matahari yang begitu menyengat, hingga peluh pun membasahi seluruh tubuh Brahma dan ayahnya, tidak menghalangi niat mereka untuk terus bekerja hingga sore hari. Mereka tetap bersemangat, walaupun tubuh mereka meminta untuk beristirahat sejenak. Beribadah kepada Allah tidak pernah mereka tinggalkan. Ibu dan neneknya pun sedang asik membuat berbagai kerajinan tangan sekemampuan mereka. Mereka membuat keset, lap tangan, dan kerajinan tangan lainnya untuk dijual ke kota. Seringkali, tangan nenek harus mengeluarkan darah, karena matanya telah rabun sehingga tersayat pisau. Bahkan, jari tengahnya hampir saja putus. Tetapi, nenek tidak pernah jera. Demi, agar semua anak dan cucunya makan, dia rela dirinya merasakan kesakitan. Hasil kerajinan tangan itu, dijual ke kota oleh ibu, menaiki angkutan umum ke kota dan dijualnya ke pasar-pasar dan toko-toko kecil. Seringkali, kerajinan tangannya tidak laku. Tidak ada yang mau membeli satupun, sehingga harus kembali ke gubuknya dengan tidak membawa hasil apapun. Jika telah seperti itu, mau tidak mau seluruh individu di gubuknya hanya makan singkong rebus saja, tanpa nasi, apalagi laukpauk.
Awan mulai tertutup oleh kegelapan. Brahma dan ayahnya segera kembali pulang ke gubuknya untuk beristirahat. Saat malamlah, Brahma beserta nenek, ayah, ibu dan adik-adiknya bisa berkumpul dan bercengkrama bersama. Sebuah lampu togok yang diisi oleh minyak tanah sangat setia menerangi kebersamaan mereka. Tidak ada beban yang dirasakan ketika bercanda gurau. Hanya penat dan lelah yang banyak terlepas. Mereka berusaha tegar dalam menerima kenyataan hidup yang diberikan oleh Allah. Dengan cara tetap bahagia dengan keadaan yang ada dan tidak pernah mengeluh.
Dengan ukuran gubuk yang sangat sempit yang hanya ada satu ruangan serbaguna ditambah satu ruangan dapur. Sedangkan kamar mandi, mereka menggunakan MCK umum yang digunakan bersama oleh tetangga-tetangga lainnya. Mereka harus saling berlapang dada, meluangkan tempat untuk bisa berbaring tidur hingga besok pagi. Tidak pernah terdengar keluhan di antara mereka. Walaupun dengan keadaan seperti itu, mereka tetap dapat tertidur pulas. Mereka tetap bersyukur. Ketika nenek, Brahma dan adik-adik Brahma telah tertidur pulas, sedangkan ibu dan ayahnya masih terjaga, ibu Brahma berkata pada suaminya, ayah Brahma, “Yah, ibu masih bersyukur dengan kondisi kita saat ini. Ibu tidak mengeluh, yah. Ibu bangga dengan ayah yang masih mau bekerja keras untuk kami semua.” “Bu, ayah juga tidak mau mengeluh. Kita syukuri apa yang telah Allah berikan pada kita. Kita masih diberi kesempatan untuk tetap bertahan hidup. Kita masih bisa bernapas, bergerak, makan, minum, dan masih bisa terlelap. Alhamdulillah kan, bu.” jelas ayah seraya menatap tersenyum istrinya.
Hari demi hari, Brahma lalui dengan membantu ayahnya di ladang. Sejak dulu, ayahnya memang seorang pekerja keras yang tidak pernah terdengar mengeluh. Walaupun terlihat letih, ia tetap bekerja sekuat tenaganya. Baginya, bila masih mampu bekerja, ia akan terus bekerja hingga jantungnya berhenti berdetak. “Yah, sepertinya ayah sudah terlalu lelah. Sebaiknya kita istirahat saja ayah. Brahma takut ayah sakit. Brahma tidak mau, ayah kenapa-kenapa.” Brahma meminta ayahnya untuk beristirahat saja, karena wajahnya sudah pucat dan nafasnya telah terengah-engah. Biar dirinya bekerja sendirian. “Ayah masih kuat kok.” katanya sembari tersenyum manis.
Sekian tahun, ayahnya harus bekerja pontang-panting membanting tulang siang malam, menafkahi keluarganya. Padahal, kondisi tubuh seseorang tidak akan selalu baik, adakalanya jatuh sakit. Sama halnya dengan ayahnya. Ia harus terbaring di gubuk kecilnya berhari-hari menahan rasa sakit di dadanya. Ia sama sekali tidak kuat untuk berladang. Kondisinya sangat lemah. Sudah hampir seminggu, ia tidak mampu untuk makan. Hanya satu hingga dua suap nasi saja yang dapat masuk ke mulutnya. Minum pun, hanya satu hingga dua tetes air yang diterima oleh tubuhnya. Serta berbicara pun hanya kuat mengucapkan satu hingga dua patah kata saja. Sangat memprihatinkan. Ukuran tubuh yang mulai mengurus. Menggerakkan tubuh pun sangat sulit. Walaupun dalam keadaan sakit parah seperti itu, ia tetap tidak pernah mau meninggalkan ibadahnya. Karena baginya, ibadah kepada Allah adalah yang paling penting dari segala hal. Ia tetap beribadah semampunya dalam keadaan berbaring.
Brahma dan keluarga tidak mampu membawanya ke rumah sakit atau dokter. Alasannya, masalah biaya ditambah jarak dari desa ke rumah sakit kota sangatlah jauh. Harus menempuh jarak berkilo-kilometer dan berjam-jam lamanya. Tetapi, beruntungnya ada salah satu tetangga yang bersedia mencarikan mobil tumpangan. Dan langsung membawanya ke rumah sakit kota. Brahma dan ibunya ikut serta dalam mobil itu. Neneknya dan adik-adiknya tidak ikut. Tetapi apa ? Tuhan berkata lain. Ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit, ruh dalam tubuhnya harus pergi menemui Yang Maha Kuasa. Brahma dan orang-orang yang ada dalam mobil itu sangatlah terkejut. Brahma dan ibunya menangis. “Kenapa harus begitu cepat pergi meninggalkan kami, ayah ?” Mobil memutar arah kembali pulang. Sesampainya di gubuk, Brahma dan ibunya kembali menangis setelah memberi berita pada neneknya dan adik-adiknya bahwa ayah tercinta telah tiada. Mereka hanya mampu menangis meraung-raung, tidak terbendung rasa kehilangannya. Jenazah segera disemayamkan, dimandikan, dishalatkan, barulah dikebumikan. Keluarga sangat terpukul atas kepergiannya. Sosok yang selama ini sangat bekerja keras untuk keluarga, harus pergi untuk selamanya.
Dengan seiringnya waktu, perlahan-lahan mereka telah mampu menerima dan semakin tabah menghadapi cobaan itu. Setelah kepergian ayahnya, Brahma harus berladang sendiri. Pada suatu pagi, ibu dan neneknya melarangnya untuk pergi ke ladang sendiri, karena berbagai bahaya sangat mengintainya. “Ma, sudah tidak usah pergi ke ladang lagi. Biarkan saja, ladang kita tidak terurus.”
“Bu, kalau Brahma tidak ke ladang, kita makan apa ? Adik-adik sekolah bagaimana ? Kerajinan tangan ibu belum tentu akan laku kan ? Brahma akan lakukan apapun demi kehidupan terbaik kita, bu.” jelas Brahma dengan nada yang lembut.
“Ibu akan berusaha semaksimal mungkin agar kerajinan tangan ibu laku di kota, nak. Tolong, ibu mohon kamu jangan ke ladang sendiri ya, nak.” ibunya sampai memohon padanya agar tidak berladang.
“Bu, Brahma akan hati-hati. Lagipula, Brahma tidak akan lama, bu. Ibu harus percaya sama Brahma bahwa Brahma bisa jaga diri. Brahma mohon, bu. Izinkan Brahma berladang !” Brahma berbalik memohon pada ibunya.
“Kamu janji, nak, tidak akan lama-lama ?”
“Siang hari nanti, insya Allah Brahma akan segera pulang, bu.”
“Ya, sudah. Kamu hati-hati ya, nak. Perhatikan tanah yang kamu pijak selama perjalanan dan ketika di ladang. Takutnya, ada sesuatu yang membahayakan dirimu, nak.”
“Ya, bu. Brahma akan mengingat pesan ibu. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.” Sahut ibu dan neneknya.
Dalam perjalanan menuju ladang, melewati rimba-rimba, pohon-pohon tinggi dan rindang. Ia masih tetap mengingat dengan jelas pesan dari ibunya. Dengan perjalanan yang cukup jauh, membuat pikirannya buyar, konsentrasinya hilang. Ia tetap berjalan melewati jalan yang biasa ia lewati bersama ayahnya. Namun, ia tidak memperhatikan tanah yang ia pijak. Tiba-tiba, ia merasakan sakit di bagian kakinya. Sangat menyakitkan. Seekor ular kobra dengan ukuran sedang berada di kakinya. Ia semakin tak berdaya. Rasa sakit yang semakin besar, membuatnya sangat lemah. Ia tergeletak tak sadar di tempatnya berdirinya. Seketika itu juga, ular kobra itu pergi menjauh dari Brahma. Ibunya di gubuk yang sedang mencuci piring, merasakan firasat buruk, sehingga ia memecahkan beberapa piring.
Setelah beberapa menit, lewatlah seorang pemuda laki-laki yang berusia sekitar 20 tahun bersama kakaknya yang akan berladang pula. Perjalanan mereka terhenti ketika melihat sesosok pemuda yang tak mereka kenal tergeletak di ladang. Mereka langsung membawanya ke mantri terdekat. Untung saja, racun dari ular kobra itu belum menjalar ke seluruh tubuh Brahma. Racunnya masih bisa diambil. Setelah dari mantri, kedua penolong itu membawanya ke rumah sakit kota untuk mendapatkan pertolongan selanjutnya, karena Brahma belum juga menyadarkan diri. Sesampainya di rumah sakit, Brahma dibawa masuk ke ruangan oleh para suster, dan kedua penolong itulah yang membiayai administrasinya. Beberapa menit kemudian, dokter yang menanganinya keluar dan berkata, “Dia telah mulai pulih. Racun dalam tubuhnya hanya sedikit dan telah kami netralisir dengan obat-obatan. Sebentar lagi, dia akan sadar dan diperbolehkan untuk pulang.” “Terima kasih, dokter.” jawab kedua penolong itu. Dokterpun meninggalkan mereka. Setelah Brahma sadar, Brahma sangat berterima kasih pada mereka, dan meminta mereka untuk mengantarnya pulang. “Saya tidak tahu, bagaimana caranya membalas kebaikan kalian. Terima kasih yang sebesar-besatnya, telah menyelamatkan nyawa saya.” kata Brahma. “Sama-sama. Allah yang menyelamatkanmu, tapi melalui kami.” kata mereka disertai dengan senyuman manis.
Keesokan harinya, Brahma tidak mau lagi berladang. “Ini karena Brahma tidak mengikuti apa kata ibu. Maafkan Brahma, bu.” Brahma meminta maaf pada ibunya. “Iya, lain kali jangan begitu lagi ya, nak. Sekarang, kamu bantu ibu membuat kerajinan tangan saja. Tidak usah ke ladang lagi.”
“Tidak, bu. Brahma ingin maju. Brahma mau ke kota. Mengadu nasib dengan modal kemampuan Brahma. Izinkan Brahma ke kota ya, bu. Brahma ingin maju.”
“Kamu yakin ingin ke kota ? Sangat banyak resikonya, nak ?”
“Brahma yakin, bu. Brahma akan berusaha. Ibu bersedia kan jika Brahma ke kota ?”
“Ya, kalau menurut kamu itu yang terbaik. Ibu izinkan kamu. Tapi satu pinta ibu. Jaga diri kamu dengan baik.” Brahma mengangguk.
Malam itu juga Brahma membereskan pakaian-pakaiannya karena paginya ia harus segera berangkat menggunakan mobil tumpangan milik kerabat tetangganya. Pagi harinya, “Hati-hati ya, nak. Jaga dirimu baik-baik. Ingat pesan ibu. Ingatlah Allah selalu. Jangan pernah meninggalkan shalat lima waktu. Dan jangan pernah melupakan kami. Kami semua menyayangimu, Brahma.” Brahma menciup tangan neneknya dan memeluk adik-adiknya. Terakhir, dia menciup tangan ibunya dan memeluk erat tubuhnya dengan penuh rasa berat meninggalkan orang-orang yang ia sayangi. Tapi itulah pilihannya, maju di rantau orang adalah tujuannya. Brahma melambaikan tangan pada ibu, nenek dan adik-adiknya. Air mata terurai deras dari mata mereka. “Brahma akan segera kembali, membawa kesuksesan !” teriaknya.
Di kota, Brahma sangat kagum akan keindahannya. Tempat yang selama ini hanya ia lihat dalam televisi tetangganya, dapat ia kunjungi dengan kakinya sendiri. “Saya harus bisa bekerja di sini. Walaupun, saya tidak tahu harus kemana. Tapi, saya percaya Allah akan selalu membantu.” Ia mendatangi masjid. Dan beribadah memohon pada Allah agar memberinya petunjuk. Setelah selesai beribadah, ia memakai alas kakinya di depan masjid, dan tak lama tepat di hadapannya ia menyaksikan seorang wanita tasnya dirampas (dijambret) oleh seorang pria berjaket hitam dengan wajah ditutupi helm. Pria itu langsung berlari ke ujung jalan. Tak tega melihatnya, Brahmapun langsung berusaha berlari mengejar pria itu. Ia meraih ujung jaketnya. Dan langsung menariknya kuat-kuat. Memberikan sedikit pukulan ke arah wajah pria itu. Tas wanita yang dirampas itupun didapat oleh Brahma. Wanita yang terlihat berusia di atasnya itupun berterima kasih padanya. “Saya Wida. Kamu siapa ?” katanya sambil mengulurkan tangan. “Saya Brahma, mbak.” sembari menyambut tangannya. Ia berniat untuk mengantar Brahma pulang menggunakan mobilnya. “Maaf, mbak. Saya baru datang ke kota ini. Saya dari desa. Saya belum punya tempat tinggal di sini.” “Ya sudah, kalau begitu kamu ikut saya saja. Kamu tinggal di rumah saya saja untuk sementara waktu. Daripada kamu tidak ada tujuan. Ayo, naik ke mobil saya.” ajaknya dengan ramah. “Tidak usah, terima kasih, mbak.” Tapi, Wida tetap memaksa. Dan ikutlah Brahma dengannya. Ketika sampai di rumah, Wida mengenalkan Brahma pada orangtuanya. Mereka saling bercerita akan banyak hal. Wida merasa iba pada Brahma yang telah berhenti sekolah di usia mudanya, dan harus bekerja keras membantu menghidupi keluarga, apalagi setelah kepergian ayah tercintanya. Wida berniat untuk membiayai sekolah Brahma. Awalnya Brahma menolak dengan keras. Tapi, Wida tetap memaksa terus-menerus. Malam itu, Brahma menginap di rumah Wida untuk sementara waktu saja. Wida yang memiliki perusahaan besar, dan memiliki rumah yang sangat mewah, tapi berjiwa besar. J
Keesokan harinya, Brahma meminta izin pada Wida dan orangtuanya untuk segera mencari tempat tinggal. Tapi, mereka melarangnya. Ia diizinkan pergi, dengan satu syarat dari Wida, yaitu tetap memberikan kabar padanya karena sebentar lagi ia akan bisa bersekolah kembali. “Apa maksudnya, mbak ?” “Saya akan membiayai kamu sekolah hingga kuliah nanti. Sepenuhnya akan saya biayai. Kamu tidak perlu kerja. Kerjanya nanti saja, kalau kamu sudah lulus kuliah. Kamu boleh tinggal sendiri dan mandiri. Tapi, saya sangat menginginkan kamu untuk bisa sekolah. Saya harap kamu tidak menolak ini.” Brahma sungguh sangat berterima kasih padanya. Entah apa yang bisa ia lakukan untuknya, untuk membalas budi padanya.
Brahma disekolahkannya di salah satu sekolah menengah atas swasta favorit dan bertaraf internasional di kota itu. Ia langsung mengirimkan surat pada keluarganya di desa, memberi kabar bahwa ia telah sekolah kembali dibiayai oleh seorang dermawan. Ia sangat senang karena ia telah bisa merasakan pendidikan sekolah kembali, setelah beberapa tahun ia meninggalkan bangku sekolah. Walaupun usianya lebih tua daripada siswa lain, namun ia tetap percaya diri bahwa ia mampu berprestasi. Ia cukup kesulitan menyerap pelajaran yang diberikan oleh guru. Otaknya telah lama tak di asah dengan pelajaran. Mungkin, dengan berjalannya waktu ia dapat mengerti pelajaran dan dapat berprestasi di sekolah barunya agar tidak mengecewakan mbak Wida. Selama ia menjalani pendidikan, ia bekerja menjadi pegawai di salah satu toko kecil. Baginya, tidak enak rasanya, sekolah dibayarkan oleh mbak Wida, sedangkan ia sendiri hanya bersantai-santai saja. Oleh karena itu, ia mencari pekerjaan. Setidaknya, ia bisa memakai hasilnya untuk membiayai hidupnya sehari-hari dan membantu membiayai sekolahnya sedikit-sedikit. Dan sisa dari hasil kerjanya sebagian ia kirimkan ke desa walaupun sedikit, dan sebagiannya lagi ia tabung untuk membiayai kuliahnya nanti. Ia berniat untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, karena ia merasa memiliki kemampuan dalam bidang akademik.
Dia lulus dari SMA itu dengan hasil nilai yang sangat baik. “Mbak, terima kasih telah membiayai sekolah saya selama ini. Terima kasih yang sebanyak-banyaknya, mbak. Saya berusaha agar bisa membalas budi mbak.” “Saya sangat senang bisa membantu kamu. Selanjutnya kamu mau melanjutkan pendidikan kemana ? Saya masih akan tetap membiayai sekolah kamu.” kata mbak Wida.
“Mbak, mbak sudah terlalu banyak menolong saya. Membiayai hidup saya. Untuk selanjutnya, saya memang akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Tapi, saya ingin sendiri. Mbak tidak usah membiayai saya lagi. Yang terpenting sekarang, saya harus lulus SNMPTN, dan masalah biaya, saya akan meminta bantuan dari pihak perguruan tinggi untuk meringankan atau bahkan membebaskan biaya kuliah saya. Setelah saya sukses menjadi seorang dokter, saya akan berusaha untuk bisa mengganti seluruh biaya yang mbak keluarkan untuk saya selama ini.”
“Saya kagum sama kamu. Kamu sangat bekerja keras. Tapi, kamu tidak perlu mengganti. Saya ikhlas membantu kamu. Kamu berpotensi untuk sukses. Saya percaya, Allah akan menyukseskan kamu. Selamat sukses, ya.”
Brahma mengikuti tes SNMPTN dengan memilih jurusan kedokteran di PTN terkenal di Indonesia, dan mendaftarkan diri menggunakan uang yang selama ini ia tabung. Setelah beberapa minggu, hasil dari tes SNMPTN akan diumumkan. Brahma sangat tegang. Ia sangat berharap dapat diterima di PTN itu. Harapan dan usaha yang selama ini ia lakukan tak sia-sia. Ia diterima. Di fakultas kedokteran. Ia sungguh bahagia. Ia berharap, ini awal dari kesuksesannya.
Ketika Brahma harus membayar biaya awal di PTN itu, ia sungguh kaget karena ternyata biayanya lebih besar dari yang ia kira, di atas 5jt. Ia sama sekali tak memiliki uang sebanyak itu. Ia memohon-mohon pada bapak TU. Bapak TU itu terlihat iba, tapi itu peraturan perguruan tinggi. Bapak TU memberikan saran agar mengikuti beasiswa bidik misi saja. Brahma mengiyakan dan memenuhi segala persyaratan beasiswa bidik misi. Beberapa waktu kemudian, ketika syarat telah dipenuhi, Brahma diberikan kebebasan biaya penuh 100% dari pihak perguruan tinggi. Berbagai pertimbangan telah dipikirkan oleh pihak perguruan tinggi, mulai dari kondisi kehidupannya, orangtuanya, dan terutama kemampuannya.
Brahma mengunjungi rumah Mbak Wida. “Mbak, alhamdulillah saya diterima di fakultas kedokteran. Terima kasih banyak, mbak atas dukungannya.”
“Serius kamu ? Waw, kamu tau, hanya orang tertentu yang mampu masuk fakultas kedokteran itu. Dan kamu . . . Wawww, subhanallah sekali ya...” mbak wida terkagum-kagum.
“Lalu, biayanya bagaimana ?” tanya mbak Wida.
“Saya mengikuti beasiswa bidik misi, sehingga biayanya dibebaskan penuh 100%, mbak. Alhamdulillah sekali.”
“Syukur kalau begitu. Mbak akan terus mendukung kamu hingga kamu sukses menjadi dokter. Mbak selalu mendoakan kamu. Walaupun kamu bukan siapa-siapanya mbak. Tapi, selama ini mbak menganggap kamu sebagai adik mbak. Jadi, mbak akan terus dan terus mendukung dan mendoakan kamu.”
“Terima kasih banyak, mbak. Mbak sangat banyak membantu saya. Ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di kota ini, mbak menolong saya dalam kebingungan saya. Suatu saat kelak mbak akan menyaksikan seorang Dr. BRAHMA, J”
“Siap, Dr BRAHMA. J”
Setelah beberapa tahun, Brahma lulus dari fakultas kedokteran, dan menyandang gelar Dr.. Hingga ia dapat bekerja di salah satu rumah sakit, menjadi seorang Dr. Brahma.
Dalam suratnya kepada keluarganya di desa, “Bu, nek, adik-adik, Brahma sudah menjadi dokter. Beberapa hari lagi Brahma akan pulang, memberikan kabar gembira pada kalian semua, orang-orang yang sangat Brahma sayangi. Brahma merindukan ibu, nenek dan adik-adik. Brahma tidak pernah melupakan kalian. Tunggu Brahma !”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar