Melangkah tanpa restu kedua orangtua menuju sebuah
tempat hiburan malam bersama beberapa teman sepermainannya. Pertama kalinya
Syifa menginjakkan kaki di diskotik. Berfoya-foya mengkonsumsi shabu-shabu di
tengah malam, dicampur dengan minuman wiski. Bukan kali ini saja, ia meneguk
wiski. Sudah berpuluh-puluh kali, bahkan beratus liter wiski mengalir dalam
tubuhnya.
Jika
organ-organ tubuhnya mampu berbicara, tentu ia akan berteriak, “Cukup, cukup,
jangan beri aku lagi sesuatu yang menyakitkan ini!”
Hingga
menjelang pagi, mereka masih berada di tempat tak terpuji itu. Menikmati
gemerlap musik disko yang terlumuri dosa-dosa. Gadis manis belia yang masih berusia
14 tahun ini, dapat dikatakan nekad sanggup bertahan di situasi yang tak
sewajarnya gadis seusianya berada di sana. Mengingat keesokan paginya, ia harus
bersekolah. Konsentrasinya lenyap dan bertahan di angan-angan hingga terlelap
pulas.
Saat
fajar menyingsing, ia terbangun dan pandangan matanya terhenti ketika memandang
jam di atas meja sebelah kanan ranjang kecilnya. “Astaga, jam 8 ? Aku tidak
mungkin bisa ke sekolah. Percuma.” Beberapa detik kemudian, kedua orangtuanya
menghampirinya.
“Syifa,
tadi malam kamu kemana ? Tengah malam kamu baru pulang diantar oleh
teman-temanmu dalam keadaan pingsan.” kata ayahnya dengan nada agak membentak.
“Kamu
melakukan apa semalam, nak ? Kamu ini anak pertama, ibu sangat berharap sama
kamu, nak. Kita ini orang gak punya. Ayahmu berkerja keras membanting tulang
membiayai hidup kita semua, nak. Siang malam ayahmu ini berladang. Jangan
melakukan hal-hal yang tidak-tidak, nak. Apa kamu tidak kasihan sama ibu, ayah,
dan adikmu ini ?” kata ibunya hingga meneteskan air mata.
Syifa
hanya terdiam dan menunduk. Kepalanya terasa pusing. Terlalu banyak zat-zat
berbahaya yang ada dalam tubuhnya hingga seluruh isi perutnya keluar melalui
mulut berupa cairan. Sebagian besar cairan itu adalah darah. Darah merah segar
yang tercampur dengan wiski dan zat-zat berbahaya lainnya. Wajahnya pucat dan tatapan
matanya layu. Kedua orangtuanya panik dan langsung membawanya ke puskesmas
terdekat. Tak banyak yang dapat dilakukan pihak puskesmas, dengan fasilitas
yang kurang memadai. Syifa dirujuk ke rumah sakit dan dibawa menggunakan mobil
dinas puskesmas. Satu hal yang masih mengganjal dalam pikiran mereka, biaya.
“Apapun akan ayah lakukan untuk kamu, nak. Supaya kamu sembuh. Ayah rela
melakukan apapun” terbersit kata-kata itu dalam benak ayahnya. Seketika itu
juga, ia berlari mencari pinjaman ke para tetangganya demi kesembuhan Syifa.
Beruntungnya, salah satu tetangganya mau meminjamkan sedikit uangnya.
“Hanya
satu yang ibu inginkan, kamu sembuh, nak.” rintih ibunya berbisik. Kondisinya
yang masih dalam keadaan sadar tak sadar semakin membuat ibunya khawatir.
Sampailah di rumah sakit bersamaan dengan kedatangan ayahnya menggunakan ojeg.
Kondisinya sungguh semakin melemah. Tak ada satu patah katapun yang terucap
dari bibirnya. Mulutnya tertutup rapat tak ada celah sedikitpun.
Biaya
administrasi awal dipenuhi. Setelah beberapa menit menunggu, dokter yang
menangani Syifa keluar dari ruangan. “Dengan orangtua pasien ?” Bergegaslah
mereka menghampiri dokter itu. “Betul, dok. Kami orangtuanya. Bagaimana kondisi
anak saya ? Dia baik-baik saja kan, dokter ?” kata ayahnya dengan perasaan
khawatir akan keadaan Syifa. “Kondisinya belum membaik. Sebentar lagi, dia
harus menjalani beberapa tes untuk memastikan penyakitnya.”
Syifa
masih tak sadar akibat pengaruh cairan bius yang diberikan dokter. Tak lama
kemudian, setelah Syifa menyadarkan diri para perawat membawanya ke ruangan
khusus untuk melakukan tes. Dan orangtuanya diminta membayar administrasi. Rp
2.000.000,00 terpampang dalam lembaran yang diterima mereka beserta rinciannya.
“Yah,
darimana kita bisa mendapatkan uang sebanyak ini ?”
“Ayah
tidak tahu, bu. Tapi, mungkin pihak rumah sakit mau memberikan keringanan. Yang
terpenting, kita tetap memanjatkan doa kepada Allah SWT. Sebaiknya, secepatnya kita
ke tempat pembayaran.”
“Ibu
dan bapak harus membayar sebanyak yang tertera dalam lembaran itu. Tidak bisa
dikurangi sama sekali. Itu peraturan rumah sakit.” kata petugas administrasi.
Mereka berterus terang padanya bahwa mereka tidak memilki uang. Tapi, petugas
administrasi bersikeras agar mereka mau membayarnya.
Aku yang sedang berjalan di depan
tempat pembayaran administrasi terhenti ketika mendengar keributan itu. “Berapa
biaya yang harus ibu dan bapak ini bayar ?” tanyaku pada petugas administrasi.
“Rp 2.000.000,00” aku melunasi seluruh biaya administrasinya.
“Atas dasar apa kamu mau membantu
kami, nak ?” tanya ayah Syifa padaku.
“Allah memerintahkan kita untuk
saling membantu antar sesama manusia. Atas dasar itulah saya berkenan membantu
ibu dan bapak. Jika boleh saya tahu, siapa yang sakit. Lalu sakit apa dia?”
“Anak kami. Kami belum mengetahui
apa penyakitnya. Dia muntah darah. Saat ini, dia sedang menjalani beberapa tes.”
jelas ibu Syifa.
“Bolehkah saya bertemu dengannya ?
Saya ingin mengetahui keadaannya.”
“Boleh, boleh sekali, nak. Mari,
menunggu hingga selesai tesnya.”
Berdasarkan hasil tes yang telah
dilakukan, Syifa mengidap kanker lambung stadium akhir. Dokter memperkirakan ia
hanya akan bertahan hingga 1 bulan lagi, tidak lebih. Ibu dan ayah Syifa sangat
terkejut mendengarnya. Mereka tak kuasa menahan air mata mereka yang keluar
hingga membasahi sebagian besar permukaan wajah mereka.
“Kata dokter Syifa sakit apa ibu,
ayah ?” tanya Syifa pada kedua orangtuanya.
“Kamu, kamu terkena penyakit kanker
lambung, nak. Maafkan ibu, ibu tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Ini semua
salah ibu.” dengan berat hati ia ungkapkan itu pada Syifa. Kenyataan terberat
dalam hidupnya. Sel kanker mematikan yang dengan cepat menjalar ke seluruh jaringan
dan organ tubuhnya. “Ayah juga minta maaf ya, nak. Ayah ...” Syifa memotong
pembicaraan ayahnya. “Ayah dan ibu selama ini sangat peduli sama Syifa. Ini semuanya
salah Syifa. Syifa selalu berbohong sama ibu dan ayah. Setiap pulang sekolah
terlambat, Syifa bilang baru dari rumah teman kerja kelompok atau ada pelajaran
tambahan di sekolah. Padahal sebenarnya Syifa main di tempat Syifa biasa
nongkrong bersama teman-teman. Disana, Syifa minum minuman keras, dan sesekali
Syifa mengkonsumsi narkoba bu, yah. Pulang tengah malam itu pun, Syifa dari
diskotik. Pertama kalinya Syifa ke diskotik. Maafkan Syifa. Syifa menyesal.
Syifa gak mau mengulanginya lagi. Syifa ingin sembuh.” Ia menyesali seluruh
perbuatannya. Kedua orangtuanya memaafkan dan memintanya agar mau benar-benar
berubah menjadi anak yang baik. Aku terhanyut dalam suasana yang mengharukan.
Kesungguhan hatinya untuk berubah
membuatnya semangat menjalani rangkaian pengobatan yang masih tetap dibiayai
olehku. Aku sangat mendukungnya untuk sembuh dan berubah menjadi pribadi yang
lebih baik. Setiap pagi, aku datang ke rumahnya dan mengajaknya shalat
berjamaah serta mendengarkan ceramah subuh di masjid. Jarak 2 km yang mestiku
tempuh, tak menghalangi niat baikku untuk Syifa. Aku telah menganggapnya sebagai
adikku sendiri, sebagai keluarga yang menemani kehidupanku di rantau orang
sebagai mahasiswa.
Pada suatu pagi, ketika aku dan
Syifa baru pulang dari masjid, kami terkejut bukan kepalang ketika mendapati
rumah Syifa telah habis hangus terbakar. Seorang sadis yang tidak diketahui
identitasnya menghancurluluhkan seluruh isi rumah beserta ibu, ayah dan
adiknya. Mereka yang sedang beraktivitas di dalam rumah, terjebak karena di
sekeliling mereka telah dipenuhi api. Tak sempat mereka menyelamatkan diri, api
semakin membesar dan membakar habis seluruh bagian rumah yang sebagian besar
terbuat dari kayu lapuk. Para tetangga yang membantu memadamkan api dengan
menyiram air menggunakan ember, tak berarti banyak. Api yang membara sangatlah
besar. Sedikit air tak mampu melawan api yang asapnya mengebul ke langit. Tak
ada yang tersisa, kecuali jasad-jasad terbakar yang telah terbujur kaku.
“Ibu, ayah... Maafkan Syifa. Syifa
gak bisa menjadi anak yang baik, berbakti pada ibu dan ayah. Maafkan Syifa.”
rintih Syifa. Ia belum bisa menerima kepergian orang-orang yang ia sayangi,
walaupun sempat ia menyia-nyiakannya. Aku tak bisa berbuat banyak. Aku hanya
berusaha menenangkan Syifa, “Mereka telah tenang di alam sana. Jangan tangisi
mereka lagi. Doakan, agar semua amal mereka diterima di sisi Allah SWT, dan mereka
bisa masuk syurga.” Rajutan kasih sayang dan perhatian yang mereka berikan takkan
pernah sirna dari benaknya. Hanya menyisakan sesal yang takkan pernah ada
akhirnya.
Setelah kepergian keluarganya, Syifa
harus hidup sebatang kara, dan tidak memiliki tempat tinggal. Hidup sendiri
ditambah beban penyakit yang diderita memang tak akan mudah untuk dijalani. Aku
menawarkannya untuk tinggal bersamaku di tempat kosku. Tapi, dia tak mau. Dia
lebih memilih menetap di masjid. Para tetanggapun telah menawarkan tempat
tinggal, namun dia tetap menolak. “Syifa, kamu kenapa gak mau tinggal di tempat
kost kakak ? Ruangannya memang kecil, tapi kalau kamu tinggal di masjid, siapa
yang akan memperhatikan aktivitas kamu. Kamu itu harus banyak istirahat. Kakak
gak mau kamu kenapa-kenapa.”
“Syifa ingin di masjid, kak. Syifa
ingin mendekatkan diri pada Allah SWT. Biarkan Syifa di sini, kak. Syifa akan
sangat bahagia jika terus-menerus berada di sini. Syifa bisa jaga diri kok,
kak. Kakak gak usah memikirkan Syifa. Kakak fokus dengan kuliah kakak saja.”
“Kakak senang dengan niat kamu itu.
Kakak izinkan kamu tinggal di sini. Tapi, setiap jam atau bahkan setiap menit
setelah dan sebelum kakak kuliah, kakak akan datang ke sini untuk memeriksa
keadaan kamu dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kamu, yaitu makan dan minum.”
Selama berhari-hari, di setiap
harinya Syifa dan aku mengikuti shalat berjamaah di masjid. Seringkali rasa
sakit di lambungnya muncul tiba-tiba dan tak tertahankan. Ia tak pernah
mengeluhkan rasa sakitnya pada oranglain. Cukup dirinya dan Allah SWT yang
mengetahui seberapa besar rasa sakit itu.
Syifa memenuhi hari-harinya dengan
beribadah. Melupakan dan meninggalkan selamanya semua hal yang berbau miras dan
narkotika. Mulutnya basah karena selalu bertasbih menyebut nama Allah. Shalat
dan membaca Al-Quran pun tak pernah ia tinggalkan. Saat menjalani kemoterapi
bersamaku, mulutnya tak pernah berhenti bertasbih.
Pada suatu pagi, setelah ia
melaksanakan shalat duha, ia memanjatkan doa pada Allah SWT, “Ya Allah, aku
merindukan sekolah. Bukan merindukan teman-teman yang selama ini
menjerumuskanku, tapi merindukan pemberi ilmu dan ilmu yang didapatkan. Entah
kapan, aku dapat mengenyam pendidikan. Apakah di syurga terdapat sekolah, ya
Allah ? Mungkin, di sana semuanya jauh lebih baik dan lebih indah dari semua
yang ada di muka bumi ini.” Ia mengerang kesakitan. Rasa sakit di lambungnya
kembali muncul. Tapi, rasa sakit kali ini, jauh lebih besar dan lebih lama dari
yang sebelum-sebelumnya. Saat menahan rasa sakitpun, bibirnya terus menyebut
nama Allah.
Tidak lama kemudian, seorang bocah
laki-laki berusia sekitar 3-4 tahun memasuki masjid. Wajahnya pucat, tubuhnya
sangat lesu dan lemah hingga ia menyandarkan tubuhnya ke dinding. Syifa yang
sedang menahan rasa sakit mencoba menampakkan wajah berseri pada bocah itu dan
menghampirinya. “Dek, ada yang bisa kakak bantu ?” ucapannya terbata-bata,
lambungnya terasa semakin sangat sakit dan perih. “Saya lapar, kak. Sangat
lapar.” “Persediaan makanan kakak habis, dek. Kakak cari makanan dulu keluar
ya. Kamu tunggu di sini, jangan kemana-kemana.” Walaupun dalam keadaan menahan
rasa sakit di lambungnya, ia tetap mau membantu mencari makanan untuk bocah tak
berdaya itu.
Berjalanlah ia keluar menuju sebuah
warung kecil dengan langkah tersendat-sendat. Ia tidak memiliki uang untuk
membeli makanan. “Mbak, saya tidak punya uang. Tapi saya butuh makanan untuk
saya berikan pada anak kecil yang membutuhkan. Mbak bisa membantu saya ?”
“Ya sudah. Ini makanannya. Tidak
usah dibayar. Kamu sakit ya ? Wajahmu lesu sekali. Mbak antar pulang ya ?
Dimana rumahmu ?” tanya penjaga warung sembari memberikan sebungkus nasi
beserta lauk pauknya
“Gak, mbak. Saya memang lagi kurang
enak badan. Saya bisa pulang sendiri. Terima kasih banyak, mbak.” Rasa sakit
yang semakin menggerogoti lambungnya tak ia hiraukan. Melangkah dengan
tertatih-tatih untuk kembali ke masjid, “Dek, ini makanannya. Ayo dimakan
sampai habis.” Bocah itu melahap seluruh makanan yang ia berikan. Di tengah
menahan sakit yang semakin menjadi-jadi, ia masih mampu tersenyum melihat bocah
itu kembali bertenaga. Senyuman terakhir yang pada saat itu juga tubuhnya
terjatuh menyentuh tanah. Nafasnya tak berhembus, jantungnya sudah tidak
berdetak. Bocah itu kebingungan, apa yang terjadi dengan kakak ini.
Aku datang, di saat Syifa telah
tiada. Pergi untuk selamanya. Aku tak ada di sampingnya. Menemani di akhir
hayatnya. Jika aku tahu akan terjadi seperti ini, lebih baik aku tak pergi
kuliah. Seharusnya aku menemaninya, agar dia tetap dalam keadaan baik-baik
saja. Tapi, inilah jalan yang Allah takdirkan untuknya. Selamat jalan Syifa !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar