Sabtu, 28 April 2012

GUMPALAN DAN TETESAN PERUBAHAN


Melangkah tanpa restu kedua orangtua menuju sebuah tempat hiburan malam bersama beberapa teman sepermainannya. Pertama kalinya Syifa menginjakkan kaki di diskotik. Berfoya-foya mengkonsumsi shabu-shabu di tengah malam, dicampur dengan minuman wiski. Bukan kali ini saja, ia meneguk wiski. Sudah berpuluh-puluh kali, bahkan beratus liter wiski mengalir dalam tubuhnya.

            Jika organ-organ tubuhnya mampu berbicara, tentu ia akan berteriak, “Cukup, cukup, jangan beri aku lagi sesuatu yang menyakitkan ini!”
            Hingga menjelang pagi, mereka masih berada di tempat tak terpuji itu. Menikmati gemerlap musik disko yang terlumuri dosa-dosa. Gadis manis belia yang masih berusia 14 tahun ini, dapat dikatakan nekad sanggup bertahan di situasi yang tak sewajarnya gadis seusianya berada di sana. Mengingat keesokan paginya, ia harus bersekolah. Konsentrasinya lenyap dan bertahan di angan-angan hingga terlelap pulas.
            Saat fajar menyingsing, ia terbangun dan pandangan matanya terhenti ketika memandang jam di atas meja sebelah kanan ranjang kecilnya. “Astaga, jam 8 ? Aku tidak mungkin bisa ke sekolah. Percuma.” Beberapa detik kemudian, kedua orangtuanya menghampirinya.
            “Syifa, tadi malam kamu kemana ? Tengah malam kamu baru pulang diantar oleh teman-temanmu dalam keadaan pingsan.” kata ayahnya dengan nada agak membentak.
            “Kamu melakukan apa semalam, nak ? Kamu ini anak pertama, ibu sangat berharap sama kamu, nak. Kita ini orang gak punya. Ayahmu berkerja keras membanting tulang membiayai hidup kita semua, nak. Siang malam ayahmu ini berladang. Jangan melakukan hal-hal yang tidak-tidak, nak. Apa kamu tidak kasihan sama ibu, ayah, dan adikmu ini ?” kata ibunya hingga meneteskan air mata.
            Syifa hanya terdiam dan menunduk. Kepalanya terasa pusing. Terlalu banyak zat-zat berbahaya yang ada dalam tubuhnya hingga seluruh isi perutnya keluar melalui mulut berupa cairan. Sebagian besar cairan itu adalah darah. Darah merah segar yang tercampur dengan wiski dan zat-zat berbahaya lainnya. Wajahnya pucat dan tatapan matanya layu. Kedua orangtuanya panik dan langsung membawanya ke puskesmas terdekat. Tak banyak yang dapat dilakukan pihak puskesmas, dengan fasilitas yang kurang memadai. Syifa dirujuk ke rumah sakit dan dibawa menggunakan mobil dinas puskesmas. Satu hal yang masih mengganjal dalam pikiran mereka, biaya. “Apapun akan ayah lakukan untuk kamu, nak. Supaya kamu sembuh. Ayah rela melakukan apapun” terbersit kata-kata itu dalam benak ayahnya. Seketika itu juga, ia berlari mencari pinjaman ke para tetangganya demi kesembuhan Syifa. Beruntungnya, salah satu tetangganya mau meminjamkan sedikit uangnya.
            “Hanya satu yang ibu inginkan, kamu sembuh, nak.” rintih ibunya berbisik. Kondisinya yang masih dalam keadaan sadar tak sadar semakin membuat ibunya khawatir. Sampailah di rumah sakit bersamaan dengan kedatangan ayahnya menggunakan ojeg. Kondisinya sungguh semakin melemah. Tak ada satu patah katapun yang terucap dari bibirnya. Mulutnya tertutup rapat tak ada celah sedikitpun.
            Biaya administrasi awal dipenuhi. Setelah beberapa menit menunggu, dokter yang menangani Syifa keluar dari ruangan. “Dengan orangtua pasien ?” Bergegaslah mereka menghampiri dokter itu. “Betul, dok. Kami orangtuanya. Bagaimana kondisi anak saya ? Dia baik-baik saja kan, dokter ?” kata ayahnya dengan perasaan khawatir akan keadaan Syifa. “Kondisinya belum membaik. Sebentar lagi, dia harus menjalani beberapa tes untuk memastikan penyakitnya.”
            Syifa masih tak sadar akibat pengaruh cairan bius yang diberikan dokter. Tak lama kemudian, setelah Syifa menyadarkan diri para perawat membawanya ke ruangan khusus untuk melakukan tes. Dan orangtuanya diminta membayar administrasi. Rp 2.000.000,00 terpampang dalam lembaran yang diterima mereka beserta rinciannya.
            “Yah, darimana kita bisa mendapatkan uang sebanyak ini ?”
            “Ayah tidak tahu, bu. Tapi, mungkin pihak rumah sakit mau memberikan keringanan. Yang terpenting, kita tetap memanjatkan doa kepada Allah SWT. Sebaiknya, secepatnya kita ke tempat pembayaran.”
            “Ibu dan bapak harus membayar sebanyak yang tertera dalam lembaran itu. Tidak bisa dikurangi sama sekali. Itu peraturan rumah sakit.” kata petugas administrasi. Mereka berterus terang padanya bahwa mereka tidak memilki uang. Tapi, petugas administrasi bersikeras agar mereka mau membayarnya.
            Aku yang sedang berjalan di depan tempat pembayaran administrasi terhenti ketika mendengar keributan itu. “Berapa biaya yang harus ibu dan bapak ini bayar ?” tanyaku pada petugas administrasi. “Rp 2.000.000,00” aku melunasi seluruh biaya administrasinya.
            “Atas dasar apa kamu mau membantu kami, nak ?” tanya ayah Syifa padaku.
            “Allah memerintahkan kita untuk saling membantu antar sesama manusia. Atas dasar itulah saya berkenan membantu ibu dan bapak. Jika boleh saya tahu, siapa yang sakit. Lalu sakit apa dia?”
            “Anak kami. Kami belum mengetahui apa penyakitnya. Dia muntah darah. Saat ini, dia sedang menjalani beberapa tes.” jelas ibu Syifa.
            “Bolehkah saya bertemu dengannya ? Saya ingin mengetahui keadaannya.”
            “Boleh, boleh sekali, nak. Mari, menunggu hingga selesai tesnya.”
            Berdasarkan hasil tes yang telah dilakukan, Syifa mengidap kanker lambung stadium akhir. Dokter memperkirakan ia hanya akan bertahan hingga 1 bulan lagi, tidak lebih. Ibu dan ayah Syifa sangat terkejut mendengarnya. Mereka tak kuasa menahan air mata mereka yang keluar hingga membasahi sebagian besar permukaan wajah mereka.
            “Kata dokter Syifa sakit apa ibu, ayah ?” tanya Syifa pada kedua orangtuanya.
            “Kamu, kamu terkena penyakit kanker lambung, nak. Maafkan ibu, ibu tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Ini semua salah ibu.” dengan berat hati ia ungkapkan itu pada Syifa. Kenyataan terberat dalam hidupnya. Sel kanker mematikan yang dengan cepat menjalar ke seluruh jaringan dan organ tubuhnya. “Ayah juga minta maaf ya, nak. Ayah ...” Syifa memotong pembicaraan ayahnya. “Ayah dan ibu selama ini sangat peduli sama Syifa. Ini semuanya salah Syifa. Syifa selalu berbohong sama ibu dan ayah. Setiap pulang sekolah terlambat, Syifa bilang baru dari rumah teman kerja kelompok atau ada pelajaran tambahan di sekolah. Padahal sebenarnya Syifa main di tempat Syifa biasa nongkrong bersama teman-teman. Disana, Syifa minum minuman keras, dan sesekali Syifa mengkonsumsi narkoba bu, yah. Pulang tengah malam itu pun, Syifa dari diskotik. Pertama kalinya Syifa ke diskotik. Maafkan Syifa. Syifa menyesal. Syifa gak mau mengulanginya lagi. Syifa ingin sembuh.” Ia menyesali seluruh perbuatannya. Kedua orangtuanya memaafkan dan memintanya agar mau benar-benar berubah menjadi anak yang baik. Aku terhanyut dalam suasana yang mengharukan.
            Kesungguhan hatinya untuk berubah membuatnya semangat menjalani rangkaian pengobatan yang masih tetap dibiayai olehku. Aku sangat mendukungnya untuk sembuh dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Setiap pagi, aku datang ke rumahnya dan mengajaknya shalat berjamaah serta mendengarkan ceramah subuh di masjid. Jarak 2 km yang mestiku tempuh, tak menghalangi niat baikku untuk Syifa. Aku telah menganggapnya sebagai adikku sendiri, sebagai keluarga yang menemani kehidupanku di rantau orang sebagai mahasiswa.
            Pada suatu pagi, ketika aku dan Syifa baru pulang dari masjid, kami terkejut bukan kepalang ketika mendapati rumah Syifa telah habis hangus terbakar. Seorang sadis yang tidak diketahui identitasnya menghancurluluhkan seluruh isi rumah beserta ibu, ayah dan adiknya. Mereka yang sedang beraktivitas di dalam rumah, terjebak karena di sekeliling mereka telah dipenuhi api. Tak sempat mereka menyelamatkan diri, api semakin membesar dan membakar habis seluruh bagian rumah yang sebagian besar terbuat dari kayu lapuk. Para tetangga yang membantu memadamkan api dengan menyiram air menggunakan ember, tak berarti banyak. Api yang membara sangatlah besar. Sedikit air tak mampu melawan api yang asapnya mengebul ke langit. Tak ada yang tersisa, kecuali jasad-jasad terbakar yang telah terbujur kaku.
            “Ibu, ayah... Maafkan Syifa. Syifa gak bisa menjadi anak yang baik, berbakti pada ibu dan ayah. Maafkan Syifa.” rintih Syifa. Ia belum bisa menerima kepergian orang-orang yang ia sayangi, walaupun sempat ia menyia-nyiakannya. Aku tak bisa berbuat banyak. Aku hanya berusaha menenangkan Syifa, “Mereka telah tenang di alam sana. Jangan tangisi mereka lagi. Doakan, agar semua amal mereka diterima di sisi Allah SWT, dan mereka bisa masuk syurga.” Rajutan kasih sayang dan perhatian yang mereka berikan takkan pernah sirna dari benaknya. Hanya menyisakan sesal yang takkan pernah ada akhirnya.
            Setelah kepergian keluarganya, Syifa harus hidup sebatang kara, dan tidak memiliki tempat tinggal. Hidup sendiri ditambah beban penyakit yang diderita memang tak akan mudah untuk dijalani. Aku menawarkannya untuk tinggal bersamaku di tempat kosku. Tapi, dia tak mau. Dia lebih memilih menetap di masjid. Para tetanggapun telah menawarkan tempat tinggal, namun dia tetap menolak. “Syifa, kamu kenapa gak mau tinggal di tempat kost kakak ? Ruangannya memang kecil, tapi kalau kamu tinggal di masjid, siapa yang akan memperhatikan aktivitas kamu. Kamu itu harus banyak istirahat. Kakak gak mau kamu kenapa-kenapa.”
            “Syifa ingin di masjid, kak. Syifa ingin mendekatkan diri pada Allah SWT. Biarkan Syifa di sini, kak. Syifa akan sangat bahagia jika terus-menerus berada di sini. Syifa bisa jaga diri kok, kak. Kakak gak usah memikirkan Syifa. Kakak fokus dengan kuliah kakak saja.”
            “Kakak senang dengan niat kamu itu. Kakak izinkan kamu tinggal di sini. Tapi, setiap jam atau bahkan setiap menit setelah dan sebelum kakak kuliah, kakak akan datang ke sini untuk memeriksa keadaan kamu dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kamu, yaitu makan dan minum.”
            Selama berhari-hari, di setiap harinya Syifa dan aku mengikuti shalat berjamaah di masjid. Seringkali rasa sakit di lambungnya muncul tiba-tiba dan tak tertahankan. Ia tak pernah mengeluhkan rasa sakitnya pada oranglain. Cukup dirinya dan Allah SWT yang mengetahui seberapa besar rasa sakit itu.
            Syifa memenuhi hari-harinya dengan beribadah. Melupakan dan meninggalkan selamanya semua hal yang berbau miras dan narkotika. Mulutnya basah karena selalu bertasbih menyebut nama Allah. Shalat dan membaca Al-Quran pun tak pernah ia tinggalkan. Saat menjalani kemoterapi bersamaku, mulutnya tak pernah berhenti bertasbih.
            Pada suatu pagi, setelah ia melaksanakan shalat duha, ia memanjatkan doa pada Allah SWT, “Ya Allah, aku merindukan sekolah. Bukan merindukan teman-teman yang selama ini menjerumuskanku, tapi merindukan pemberi ilmu dan ilmu yang didapatkan. Entah kapan, aku dapat mengenyam pendidikan. Apakah di syurga terdapat sekolah, ya Allah ? Mungkin, di sana semuanya jauh lebih baik dan lebih indah dari semua yang ada di muka bumi ini.” Ia mengerang kesakitan. Rasa sakit di lambungnya kembali muncul. Tapi, rasa sakit kali ini, jauh lebih besar dan lebih lama dari yang sebelum-sebelumnya. Saat menahan rasa sakitpun, bibirnya terus menyebut nama Allah.
            Tidak lama kemudian, seorang bocah laki-laki berusia sekitar 3-4 tahun memasuki masjid. Wajahnya pucat, tubuhnya sangat lesu dan lemah hingga ia menyandarkan tubuhnya ke dinding. Syifa yang sedang menahan rasa sakit mencoba menampakkan wajah berseri pada bocah itu dan menghampirinya. “Dek, ada yang bisa kakak bantu ?” ucapannya terbata-bata, lambungnya terasa semakin sangat sakit dan perih. “Saya lapar, kak. Sangat lapar.” “Persediaan makanan kakak habis, dek. Kakak cari makanan dulu keluar ya. Kamu tunggu di sini, jangan kemana-kemana.” Walaupun dalam keadaan menahan rasa sakit di lambungnya, ia tetap mau membantu mencari makanan untuk bocah tak berdaya itu.
            Berjalanlah ia keluar menuju sebuah warung kecil dengan langkah tersendat-sendat. Ia tidak memiliki uang untuk membeli makanan. “Mbak, saya tidak punya uang. Tapi saya butuh makanan untuk saya berikan pada anak kecil yang membutuhkan. Mbak bisa membantu saya ?”
            “Ya sudah. Ini makanannya. Tidak usah dibayar. Kamu sakit ya ? Wajahmu lesu sekali. Mbak antar pulang ya ? Dimana rumahmu ?” tanya penjaga warung sembari memberikan sebungkus nasi beserta lauk pauknya
            “Gak, mbak. Saya memang lagi kurang enak badan. Saya bisa pulang sendiri. Terima kasih banyak, mbak.” Rasa sakit yang semakin menggerogoti lambungnya tak ia hiraukan. Melangkah dengan tertatih-tatih untuk kembali ke masjid, “Dek, ini makanannya. Ayo dimakan sampai habis.” Bocah itu melahap seluruh makanan yang ia berikan. Di tengah menahan sakit yang semakin menjadi-jadi, ia masih mampu tersenyum melihat bocah itu kembali bertenaga. Senyuman terakhir yang pada saat itu juga tubuhnya terjatuh menyentuh tanah. Nafasnya tak berhembus, jantungnya sudah tidak berdetak. Bocah itu kebingungan, apa yang terjadi dengan kakak ini.
            Aku datang, di saat Syifa telah tiada. Pergi untuk selamanya. Aku tak ada di sampingnya. Menemani di akhir hayatnya. Jika aku tahu akan terjadi seperti ini, lebih baik aku tak pergi kuliah. Seharusnya aku menemaninya, agar dia tetap dalam keadaan baik-baik saja. Tapi, inilah jalan yang Allah takdirkan untuknya. Selamat jalan Syifa !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar