Rozak, si badut amatir, yg belum
lama ini beralih profesi dari pegawai bank swasta menjadi badut. Jauh banget
peralihannya, ibarat gajah Jawa pindah ke Antartika (Eh, bisa gitu? Gajah kan
berat. Es di sana juga bakal mencair, gak kuat nahan beban 600ton). Rozak
dipecat dari bank sebab dianggap mencuri guci kesayangan bos besar bank. Jadi
begini ceritanya.
Rozak
memasuki ruangan besar bos utk menyimpan berkas-berkas penting setelah diberi
izin oleh bosnya yg sedang berada di toilet. Rozak sama sekali tidak
memperhatikan benda-benda yg ada di sekeliling. Hanya terfokus pada meja kaca yg
menjadi tujuannya, kemudian kembali keluar ruangan. Setelah keluar dari toilet,
“Rozaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkk!” teriak pak bos. Dengan sigap dan berlari, ia
membuka pintu ruangan bos secara panik namun perlahan, “Ada apa, pak? Apa ada
berkas yg hilang? Atau terjadi sesuatu pada bagian diri bapak di toilet tadi?”
tanyanya setelah berdiri tepat di belakang pintu, tak mau terlalu dekat dengan
pak bos. Takut kena cimpratan air liur.
“Guci
saya mana? Hah? Kamu kemanakan guci saya? Kamu tau, itu guci mahal. Harganya
tidak akan cukup dengan gaji kamu selama 5abad.” Waduh, 5abad? 1abad aja, bapak
belum tentu masih hidup, pak.
“Sa-saya
tidak tau, pak. Saya tidak tau sama sekali guci bapak ada dimana. Saya tidak
melihat, pak. Mungkin bapak bawa ke toilet tadi dan bapak lupa naruhnya.” Wajah
Rozak tampak sangat memelas. Aduh, ngapain coba bawa guci ke toilet. Buat
nampungkah? Eits, nampung air maksudnya, kan mungkin aja embernya bocor.
“Saya
kecewa mengangkat kamu sebagai pegawai.” (Si pak bos kayak kuat aja ngangkat
saya. Bawa diri sendiri aja udah susah, pak). “Ternyata kamu pencuri. Mulai
detik ini, pukul 09.55.04, kamu bukan lagi pegawai bank Tetot (sensor).
Silahkan keluar, kemas perangkat pribadimu dan jangan pernah menampakkan wajah
malingmu di hadapan saya lagi.”
Sejak
peristiwa itu, dia tidak mau lagi berhubungan dengan yg namanya BANK (trauma
kelas berat). Menabung di bank pun, tidak ingin. ‘Lebih baik menyimpan uang di
bawah kasur, atau di dalam sarung bantal, atau bisa juga di kotak sepatu
Adidas’
Tuduhan
maling yg dilontarkan bos, membuat Rozak terjatuh dan terjatuh lagi (Peterpan
kali ya ... kau buatku merasakan yg tak terjadi). Tuduhan palsu. Ia harus
membangun kariernya mulai dari nol lagi. Bermodalkan sedikit pesangon, yg
sebagiannya telah ia gunakan utk melunasi hutang-hutangnya di setiap warung.
Badut,
adalah satu-satunya profesi (selain di bank) yg mampu ia geluti. Lagipula,
badut hanya membutuhkan kostum dan lawakan yg menghibur orang banyak. profesi
mudah dan murah (namun kurang menjamin).
“BUTUH
BADUT UNTUK ACARA ULANG TAHUN ANAK-ANAK, DAPAT LANGSUNG MENGHUBUNGI
081012141618. TERIMA KASIH.”
Pamflet
yg diketik di warnet Tutut (sensor lagi), ia sebarkan di jalanan sendiri (bukan
disebar berjatuhan di jalanan, tapi di tempel di tempat-tempat umum menggunakan
lem, biar orang-orang bisa baca tu pamflet)
Berminggu-minggu
menunggu adanya sosok makhluk yg menghubungi handphone buluknya. Tapi, tak
kunjung juga muncul. Pengiklanan di tempat umum, tidak menghasilkan apa-apa,
tidak laku. ”Aduh, kostum udah stand by. Segala macam make up, check list.
Berbagai lawakan udah tertampung di otak, tinggal di luapkan aja. Tapiiii,
belum ada satupun manusia yg pesan gua buat jadi badut. Haduhhh, ampun. Makan
minta si Kemon mulu lagi. Malang amat sih lo, Rozaaaaakkkk!” Rozak tidak
henti-hentinya mengeluh di kost-annya.
Kemon,
sobat karibnya sejak nge-kost bersama 3tahun lalu, memang selalu membantu Rozak
dalam menjalani hidup (Beuraaaaatttttt ...). Mulai dari makan, ongkos cari
penyewa badut, print pamflet di warnet, dll. Bahkan, biaya beli pakaian dalam
pun, dari Kemon (Kaasiiaaaaaannnn ...). Padahal, Kemon hanya pegawai pabrik yg
gajinya tidak seberapa.
“Sob,
bantuin gua lah. Gua capek minta makan ke lu terus. Lama-lama gaji lo bakalan
kering. Cariin manusia yg mau beli gua buat jadi badut. Pamflet yg gua sebar
tempo hari, gak berguna banget. Dan lo tau gak, tengah malem tadi ada yg nelpon
gua, tanpa nomor. Parahnya, tu orang malah ngerayu gua. Udah tau gua dalam
keadaan hidup gak hidup, pake ngerayu lagi. Ya udah, gua bentak aja abis-abisan
tu orang.”
“Hahaha,
sabaaaaaaaarrrrr. Masalah duit mah, kalo gua punya gua tetep bakal bantu lo.
Asal nanti dibayar. Gak usah dipikirin. Emang ngerayunya gimana, bro?”
“
‘Badutku sayang, lagi apa? Udah tidur ya? Temenin aku tidur dong sayang’ Cuih,
jijik banget kan. Mana suaranya banci abis lagi. Gimana nih, sob?”
“Ya
gak gimana-gimana, bro. Lo mesti sabar nunggu. Allah tu baik ke semua
makhluk-Nya. Lo ngerasa makhluk-Nya kan?”
“Ya
iyalah. Lo pikir gua apaan. Setan aja makhluk-Nya. Tapi, jahat sih. Yg pasti
gua bukan setan, sob. Hmmmm, gua bakal nunggu Allah menurunkan kebaikannya utk
gua. Gua tunggu giliran. Antre!”
.......................................................................................................................................................
Telelelet,
telelelet, telelelet, telelelet, telelelet.
Tepat
pukul 20.00, saat Rozak sedang bercanda gurau di kost-an Kemon (sekalian minta
makan...), handphone bututnya berdering. Dag dig dag dig dag dig... Detak
jantungnya tak berdiam sedikitpun. Memompa darah dengan tekanan dan kecepatan
yg cukup besar.
“Halo,
saya butuh badut utk memeriahkan acara ulang tahun adik laki-laki saya. Anda
bersedia saya sewa?” Oh god. Rozak tersenyum sangat lebar (lebarnya seukuran
dengan tinggi monas, sekian puluh meter...)
Suara
lembut wanita di seberang telepon genggamnya. ‘Job pertama yg tidak boleh
disia-siakan dan harus dimanfaatkan dengan maksimal’ pikirnya.
Dengan
semangat dan girang tak terkira Rozak mengiyakannya. “Saya mau, Mbak. Saya akan
datang tepat waktu dan bekerja secara optimal. Masalah upah bisa nego kok,
Mbak. Kapan acaranya, Mbak? Alamatnya?”
“Sssst,
sssssst, ssssssss, sssssssm, ssssssb, sssssssssssst, sssssssssmmm.”
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Persiapan
dimulai sejak 3jam sebelum acara. Kostum badut yg telah disewa, dibiayai oleh
Kemon, akan segera ia pakai pada job badut pertamanya. Make up dan segala macam
perlengkapan telah terpasang sesuai rencana di wajah serta tubuh mungilnya.
“Bismillahirrahmanirrahim.
Semangat! Rozak siap menjalani job. Mudah-mudahan, setiap hambatan yg ada bisa
gua lewati. Do’ain gua ya, sob. Upahnya, kita bagi dua, ok?”
“Iya.
Do’a Kemon menyertaimu, bro. Upah dibagi dua? Ya, emang harusya gitu kali.
Mengingat utang-utang lo yg belum lunas. Kalo bisa sih, semua upah lo, lo
kasiin ke gua.”
“Tega
banget sih lo. Ah, pokoknya masalah upah, urusan nanti. Kan belum tentu juga
upahnya gede. Yg terpenting sekarang, job ini sukses dan upah bisa langsung
jatuh ke tangan halus gua. Iya gak, sob?”
“Bener
banget, bro. Tapiiii, tangan lo sama sekali gak halus. Masih halusan juga
tangannya Pak Wejo, tukang sapu kost-an kita. Hahaha....”
$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$
15menit
sebelum acara, Rozak si badut telah hadir dan siap utk menghibur hadirin cilik.
Memasuki ruangan penuh balon dan pernak-pernik lucu manis yg bernuansa biru. Ia
baru melangkahkan kakinya sebanyak 3kali dari pintu, daaannnn...
Baduuuuuutttttttt...
Bocah-bocah
lucu nan polos menyerbunya sembari berteriak histeris. Seakan artis papan atas
dunia memasuki ruangan indah itu (padahal kan cuma badut amatir yg tidak jelas
asal-usulnya). Karena kebingungan yg tak terbendung, Rozak berlari kocar-kacir
tak berarah. Selama 10menit, ia mesti lari maraton di tengah keramaian (kuat juga bocah-bocah ngejar Rozak. Kayaknya
tiap hari latihan lari jarak jauh). Ketika bocah-bocah itu mulai mendekat,
Rozak mempercepat larinya, mengencangkan gas mesinnya dan akhirnya bensin
habis, gigit jari deh.
Baduuuuuuuuuuuuuuuuuuuuutttttttttttttttt
.... !
Teriakan
yg melekat tepat di tubuhnya. Mengelilingi pinggang dan terikat oleh tangan
imut bocah-bocah. Rozak tidak dapat berbuat banyak. Cengkeraman di pinggangnya
terlalu kuat. Walaupun, melawan bocah-bocah, tetap saja ia kalah. Wong,
jumlahnya bejibun. Hingga seorang bidadari muncul dengan aura menarik nan
menyejukkan kalbu resahnya. Mata Rozak berbinar saat bidadari yg mungkin
berasal dari langit ketujuh itu mendekatinya seraya berucap, “Hey, adik-adik.
Udah kasian tu kakak badutnya. Capek gitu mukanya.”
Bocah-bocah
menuruti perintah sang bidadari dan meninggalkan mereka berdua. Empat mata
bersama hidung tomat si badut Rozak. “Maaf ya, Mas. Mereka memang suka begitu.
Mengganggu orang baru. Itu adik dan sepupu saya. Saya Nisa, Mas. Mas badut
siapa?” Bidadari syurga mengulurkan tangannya dengan penuh senyuman. Membuat
aliran darah Rozak mengalir sangat deras sehingga pembuluh nadinya kesulitan
mengatur peredaran darah, dan pembuluh balik tidak dapat mengontrol darah
sehingga darah yang masuk bertabrakan dengan darah yang keluar (Aduh... kok
jadi Biologi ya. Maklum 1bulan lalu membahas materi ini...). Kembali ke Rozak.
Semangat tinggi mengakibatkan tangannya secara cepat menyambut uluran tangan si
Bidadari. Owh... betapa halusnya (tangannya)
“A-aku,
Ro-Rozak, Mbak. Rozak si Badut Anyar.” (Pake gugup lagi. Pertemuan pertama
gitu. Seharusnya memunculkan kesan yg menarik). Bidadari Nisa hanya melontarkan
senyuman manis yg terpancar dari wajah beningnya. Beranjak pergi meninggalkan
Rozak yg masih menatap kagum pada kecantikannya.
“Acara
akan segera dimulai. Utk menambah kemeriahan dari acara ini, maka kakak
mengundang badut. Nanti di akhir acara, badut itu akan menghibur adik-adik
semua...(deretan acara)” (ternyata si Bidadari pembawa acara, saluuutttt..
pinter ngomong)
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
“Sekarang
badut akan menghibur adik-adik. Apapun yg adik-adik inginkan akan kakak badut
penuhi. Coba, mau minta kakak badut ngapain?”
“Sulaaaaaaaaaaaaapppppp!!!!”
Rozak
berusaha menuruti kemauan bocah-bocah. Untunglah, ia pernah belajar sulap dari
Kemon. Itupun satu-satunya jenis sulap yang mampu ia lakukan (masih untung).
“Kakak badut, pake sepatu hak tinggi dong. Terus jalan dari ujung situ ke ujung
sana, sambil main ulahuk. Gak boleh jatuh ulahuknya. Kalo jatuh, kakak badut
harus gendong kita semua secara bersamaaann...”
Waduh, pake hak tinggi? Jalan dari sisi satu ke sisi satunya lagi?
Sambil main ulahuk? Atau gendong bocah-bocah yg bejibun? Oohhh tidak, pilihan
yg membingungkan pemirsa.
“Hey
adik-adik, kalian mau nyiksa kakak badut ya? Gak boleh gitu, adik-adik.”
Bidadari membela. Sinar mata Rozak menyinari seluruh isi ruangan yang pada saat
itu memang telah dalam keadaan terang.... ???
“Mbak,
aku akan mencoba. Mbak tenang aja. Boleh pinjam hak tingginya ?” (dalam hati
Rozak sih, gondok banget. Kesel maksudnya. Red, bahasa Sunda). Daripada malu di
depan bidadari cantik...). Mana hak tingginya 10cm lagi. Gimana ceritanya nih!
Dengan
penuh rasa takut, Rozak berjalan perlahan disertai dengan 3ulahuk berpindah
tangan secara beraturan dan hak tinggi melekat erat di kakinya. Perjalanan
pertama dari sisi satu ke sisi lainnya, sukses. Perjalanan kedua, dererereret.
Apa yang terjadi? Deng deng deng.
Kumpulan
krim tart yang berceceran di lantai sebuah sisi terinjak oleh Rozak. Sesuatu
terjadi hadirin. Keseimbangan yang buruk membuat wajah yang telah dibalur cat
putih beserta hidung tomat tercebur pada sisa kue tart yg letaknya di atas meja
kaca sisi kirinya.
“Pinggangku...”
“Kakak badut jatuh.... Hahahaha..... Gendong......” (Heuh, udah tau pinggang
sakit. Gak tau keadaan banget sih bocah-bocah). Bidadari kembali menghampiri
Rozak dan membantunya utk bangkit dari lantai nan licin. Semangatnya muncul
lagi ketika memandang bidadari di hadapannya yg menggenggam erat tangannya.
Nisa
si Bidadari mengambil alih kemudi acara (mobil kali...). Meminta adik-adik yg
hadir utk bubar sebagai tanda berakhirnya acara. Penolakan yg menyebalkan dari
mereka, “Tapi, kakak badutnya belum gendong kita, kak”
“Kakak
badutnya udah sakit pinggang tuh. Kalian pulang aja, acaranya udah selesai.
Kue-kuenya nanti dikasih sama kakak-kakak yg di pintu itu, ya” Raut wajah
kecewa terukir di wajah polos bocah-bocah. Ohh, dibela utk yg kedua kalinya si
Rozak. ‘Betapa, senang hatinya, bertemu bidadari, betapa cantiknya, hati rasa
menyayangi’ (ala Sherina Munaf cilik...)
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Sebuah
persinggahan malam di depan kost-an Rozak. Teras kecil berukuran mini, 1m X
sekian cm. Termenung di gelapnya malam ditemani gemerlap bulan serta
kelap-kelip bintang. Sesekali sang bintang jatuh dari posisi sebelumnya dan
entah terhenti dimana. Harapanpun muncul dari banyak benak makhluk, terutama
Rozak. Ia mengucapkan keinginannya dengan lisan yg sangat jelas, “Gua ingin
bidadari gua, Nisa, bisa menjadi milik gua. Jadi istri gua. Amin!” Tiba-tiba
Kemon mengagetkan Rozak dari sisi kanannya, “Woy, bro!”
“Bidadari
cantik, bidadari cantik!” alah latah dia.
“Hahaha,
badut latah lagi jatuh cinta ya? Wkwk” ejek Kemon.
“Ah
lu. Ganggu aja. Gua gak latah, sob. Cuma agak latah doang. He. Lo tau gak. Di
awal job gua tadi, gua ketemu bidadari. Cuantik banget, sob. Gila, gua
tergila-gila banget sama dia. Besok gua bakalan ke rumahnya dan langsung PDKT.
Doain gua ya, sob”
“Widiih.
Semangat ya, bro. Doa Kemon akan selalu menyertaimu. Lagian. Lo kan lumayan
cakep lah ya, jadi ya mudah-mudahan lo bisa dapet yg cantik juga. Tapi, tadi
gua liat muka lo udah plus plus gitu. Cat putih badut plus sesuatu berwarna lain.
Kenapa tuh?”
“Thank, sob. Lo emang sobat terbaik
segajad raya. Ngapain sih lo bahas itu. Gua tadi sempet sial gara-gara si bocah-bocah. Dan bidadari cantik yg nolongin.
So sweet kan?” “Iya deh. Asalkan Rozak bahagia, Kemon juga ikut bahagia. Udah malem.
Duluan bobo, ah. Sukses, bro!”
Hari
ini, belum ada jadwal utk membadut. Tidak ada satupun panggilan. Free. Artinya,
’Nisa Bidadariku, Mas Badut mau ke rumah. Tunggu Mas, ya’
Angkutan
umum tidak melewati daerah rumah Nisa, sehingga Rozak harus menempuh perjalanan
dengan berjalan kaki berkilo-kilo meter dari ujung jalan. (gempor kayaknya tu
kaki...). Demi bidadari, apapun Rozak lakukan. Kalaupun mesti berkeringat
darah, itu bukan masalah baginya. Asal bisa bertemu Nisa, semua akan terobati
dalam satu waktu.
Sesampainya
di depan rumah Nisa (bukan sebagai badut), sesuatu lagi terjadi (hmmm, cahrini),
sakiiiittttt, wanita idaman yg baru ia kenal, sedang dirangkul mesra oleh pria
berparas nyaris sempurna utk menaiki mobil sedannya. Tubuh tegap tinggi dan dada
sixpack. Mungkin, kantongnya pun hampir perfect. Dibanding Rozak yg baru
merintis kariernya di dunia badut. Paling, isi saku kantongnya cuma 10rb,
dompet cuma ada foto resmi waktu jadi pegawai bank.
Tangisan
empedu mengalir di hatinya. Tangisan itu tak mampu dikeluarkan melalui mata
lentik Rozak (ya iyalah, mana bisa empedu dikeluarin dari mata). Jeritan batin
yg menguras darah hingga habis (waduh, mati atuh ya...)
Rencana
matang PDKT, GAGAL TOTAL. (sakit hati...ku. remuk jantung...ku.[versi Andra n the
Backbones]). Tak ingin pulang dengan tangan kosong. Setelah sang bidadari
beserta $prianya$ beranjak pergi, Rozak memasuki rumah Nisa utk menemui adik
Nisa. Dewi fortuna berpihak padanya, adik Nisa si salah satu bocah nakal keluar
dari rumahnya membawa sebuah bola. “Dek, kakak boleh minta no hp kak Nisa gak?
Boleh ya, dek”
“Boleh. Tapi, ada
satu syarat ......”
Syarat
bermain bola dengannya harus Rozak penuhi. Sebuah bola karet besar terbentur di
jidat jenongnya, berulang-ulang kali. ‘Apapun, demi Nisa. Benjol benjol dah!’
“Aku gak punya hp, kak. Kalo mau no hp kak Nisa, minta langsung aja” (asem
banget lah... jidat udah benjol, no hp kagak dapet... euhhh...)
Terpaksa,
pulang dengan tangan kosong. ‘Nisa oh Bidadariku. Aku si badut amatir
benar-benar terperangkap dalam cintamu. Tapi, kenapa kamu.....?”
Dalam
perjalanan, Rozak berjalan dengan tatapan kosong. Menerawang seakan-akan
melacak isi hati sang Bidadari. Kulit tubuhnya mati sejenak. Bahkan, ketika
seekor anjing mengait pada kaki celana belakangnya, ia tidak merasakannya.
Kaitannya semakin kencang, hingga menembus dan melukai kulit kakinya. Tetap
tidak ada ekspresi. Ia tetap berjalan menelusuri jalan aspal menuju ujung jalan
tempat angkutan umum berkeliaran.
Kaitan
gigi anjing semakin dalam, merobek betis kakinya. (Ekspresinya mana, Woy?!?).
Si anjing sudah terlalu letih dan kemudian melepaskan kaitan giginya. Gumpalan
darah menempel di gigi-gigi tajam anjing. Barulah Rozak sadar dan menengok ke
arah betis kanannya. “Kaki gua kenapa ni? Kok sakit ya? Ada darah lagi?” (lemot
banget sih, kaki lo robek, Rozak)
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
“Jidat
benjol, kaki robek. Apalagi nih? Sampat detik ini, gua belum juga bisa deket
sama si Nisa” “Sabaaar, bro.....”
“Lo
cuma bisa ngomong sabar, mon. Gua gak sanggup kalo terus-terusan kayak gini.
Hati gua kagak bisa nahan”
“Gak
bisa nahan? Ya, tampung aja dulu pake baskom. Kan lumayan tuh”
Rozak
bertambah geram, bukan terhibur.
3,2,1,
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikum
salam. Nisa? Kok kamu bisa tau kost-anku?” Rozak sungguh kaget tak terhingga.
Kemon hanya ingin menyaksikan telenovela yg ada di depannya, tidak mau utk
terlibat dalam dialog romantis mereka (diperkirakan seperti itu). Kemon mencari
posisi yg nyaman (serasa layar tancep....)
“Aku
tau kost-anmu dari adikku. Kemarin, dia ngikutin kamu sampai sini. Dan melihat
kakimu digigit anjing. Sekarang gimana keadaan kakimu?”
“Udah
baikan, kok. Ketemu kamu justru menjadikan kakiku sembuh 99,99%. Oiya, kamu gak
sama pacar...” “Pacar? Oh, itu. Aku udah
putus. Aku ngerasa ada yg lain di hatiku selain dia. Yaitu kamu.”
“Siapa?
Aku?”
“Iya.
Aku sayang sama kamu, Mas. Segala ketulusanmu yg meluluhkan hati aku”
“Jadi
kamu mau jadi pacarku, Nis?”
“Gak
ah. Maunya langsung jadi istrimu....”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar