Lentiknya
ruang nan memberikan atap mungil, beserta kedipan gelap benda sekitar. Aku dan
kakek menikmati gundukan-gundukan singkong, beralaskan tikar butut yang di
setiap sudutnya terdapat lubang-lubang besar berdiameter sekitar 10 cm. Gemerlap
bintang seakan-akan terhipnotis pada canda tawa kami. Kerlipannya, bak menebar
senyum berseri maksimal. Radio tua bersuara parau, tersandar di dinding lembab.
“Ridho, cucuku. Kakek prihatin
denganmu. Sekolahmu terbengkalai, sejak kepergian kedua orangtuamu menghadap
sang khalik 4 tahun lalu. Bagaimana dengan masa depanmu kelak?” Kata-kata
tersebut dilontarkannya, sembari memasukkan gunduk demi gunduk singkong ke
dalam mulut keriputnya. Tampak sekali, gigi yang masih tersisa 1 mm itu,
kesulitan mengunyah kerasnya makanan tunggal dalam gubuk.
“Kek, Ridho gak pernah
mempermasalahkan soal pendidikan. Ridho selalu ikhlas membantu kakek. Tenang
aja, kek. Gak perlu kakek pikirin. Kek, suara penyanyi nasyidnya merdu banget
ya.” Aku mengalihkan pembicaraan ke arah lagu nasyid radio di sampingku. Memang
indah terdengar pendengaran, namun akan lebih sempurna bila tidak ada kerusakan
teknik pada radio jadul itu. Kakek menyunggingkan senyumannya, yang terlihat
lucu. Gigi 1 mm-nya terbungkus bibir. Sedikitpun, tidak mengurangi rasa
ketentraman batin terdalam kami.
Malam semakin larut. Senyapnya sunyi
selalu mengingatkanku akan penuhnya deadline bekerja. Seperti hari-hari
sebelumnya, besok aku akan menyibukkan diri dengan membantu kakek membuat sapu
lidi, hingga fajar terbenam. Ya, mengumpulkan kekuatan jasmani, demi
mendapatkan uang makan.
Kasur kapuk yang tergeletak di
lantai semen nan dingin, telah terbiasa dilalui. Sepetak kasur mini, tidak akan
pernah muat untuk kami berdua. Aku mengalah terhadap kakek, dengan memilih
berbaring pada tikar berlubang serbaguna. Di setiap malam, pasti ada saja debat
lunak antaraku dan kakek. Beliau selalu menolak lelap di kasur. Tapi, sayangnya
aku lebih kuat dalam hal berargumentasi.
“””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””
Ayam jago tetangga telah bergumam
keras, “Kukuruyuuuuuuuukkk!”
Denyut nadi yang masih berdiskusi
ria bersama darah, memerlukan waktu lama untuk kembali pada kinerja kerja
sesungguhnya.
Setelah menunaikan shalat shubuh,
kakek diam-diam melangkah tertatih menuju sisa kumpulan bagian-bagian tumbuhan
yang mesti diolah menjadi lidi. Pengolahan dilakukan secara manual. Tangan
kurus, ibarat kulit pembungkus tulang, bergerak lincah menggeliatkan tahap demi
tahap proses pembentukan lidi. Menyeruak urat mengiringi tulang.
Aku terkecoh. Tak kira, kakek masih
bertilawah Al-Qur’an. Namun, ternyata telah asik bergelut dengan lidi di
belakang gubuk. Aku yang baru tiba dari jamban berjarak 10 meter dari posisiku
kini, segera meminta kakek agar beristirahat saja di tengah kondisi kesehatan labilnya.
“Kek, kakek harusnya istirahat. Lidi
ini mah bisa nanti siang. Pagi-pagi gini tu, masih dingin sekali, kek. Gak baik
untuk kesehatan kakek.” Aku menggapai tangan kakek, untuk ku tarik ke dalam
gubuk.
“Setidaknya, berangsur-angsur.
Beberapa sapu lidi akan terbentuk dan bisa kita jual, Ridho. Uhuuukk,
uhuuuuukkk!” Kakek menempelkan tangan ke rusuk dadanya. Menahan sakit sesak,
yang menimbulkan suara ngiung-ngiung.
“Tuh kan, kek. Ridho bilang apa!”
Aku membimbing kakek dan membaringkannya ke atas kasur tak nyaman.
Menyelimutkan kain panjang tipis ke permukaan tubuh kakek. Dalam beberapa
detik, beliau terhanyut dalam lelap.
Aku tidak rela, jika harus
meninggalkan kakek sendiri dalam gubuk, demi mendapat dua pinggan nasi. Atau
sekadar, sepinggan nasi untuk kakek seorang.
“Ya Allah, kakek belum makan pagi
ini.” (aku berpikir sejenak) “Ya Allah. Aku titip kakek sebentar. Aku mau
mencari makanan. Jaga kakek, ya Allah. Aku mohon!”
Aku berlari menuju warung mbak Lono,
warung desaku satu-satunya yang letaknya di sekitar ujung jalan. Berlari
sekencang mungkin, hingga tak tampak batu besar berjari-jari 20 cm terpampang
di hadapanku. Aku masih berlari, dan …. Dluggg …. Kakiku menyandung batu-batu
itu. Hidung wajahku terbanting pada permukaan tanah tak rata yang dipenuhi
batu-batu berukuran kecil, sedang serta cukup besar.
Kakek … Teringat aku akan beliau.
Aku terbangun kembali dari jatuhanku dan berlari, berlari dan terus berlari
melewati sawah-sawah kering layu. Namun, warung mbak Lono belum juga tampak.
Tenagaku mulai terkuras habis.
Ketika sampai di warung tujuanku,
mbak Lono memberikan sapaan hangat yang disertai dengan senyuman manis
bibirnya. “Kenapa kamu ngos-ngosan begitu?”
“Mbak, tolongin Ridho. Kakek tadi
batuk-batuk dan sekarang lagi tidur. Kayanya kakek sangat lelah, mbak. Kakek
belum makan sama sekali. Ridho takut, kalau kalau kakek gak makan, akan
memperburuk keadaan kakek. Ridho boleh ngutang lagi, mbak?”
Wanita muda berpakaian kebaya tua
ini, nampak bersimpati padaku. Ia masuk ke dalam pondoknya, dan keluar membawa
sebuah kantong hitam padat di tangan kanan halusnya.
“Ambil ini! Untukmu dan kakekmu.”
“Terima kasih banyak, mbak. Nanti
setelah Ridho ngojeg, bakalan Ridho bayar. Mbak tidak usah risau.”
“Mbak ikhlas ngasih kamu. Tidak
perlu diganti. Ayo, cepat pulang sana, kasian kakekmu sendiri.”
“Sekali lagi, terima kasih banyak,
mbak.”
Langkahanku terseok-seok menjauhi
warung mbak Lono. Rasanya, kaki ini ingin bergolek sekejap di pelataran tanah.
Tapi, tidak mungkin. Aku sangat mengkhawatirkan kakek. Tunggu, Ridho. Sebentar
lagi, Ridho sampai, kek!
Tulang hidungku menjerit kesakitan.
Entah, sepertinya beberapa detik lagi, hidungku akan remuk, terurai menjadi
kepingan-kepingan.
Aku membuka pintu lapuk gubukku yang
tidak terkunci. Dan duduk tepat di sebelah kakek. “Kek, bangun. Kita makan
dulu.” Kelopak mata kakek terangkat sedikit demi sedikit, yang kemudian
terhenti di pertengahan hamparan kornea.
“Kek, makan ya. Ridho mindahin
makanannya ke piring dulu.” Kakek hanya terdiam. Rahangnya sama sekali tak
tergerak. Hanya sesekali melimpahkan kedipan mata.
Aku beranjak menghampiri kumpulan
peralatan makan, mengambil sebuah piring plastik kummel yang telah dicuci satu
minggu lalu. Ikatan plastik hitam itu, kubuka. Menyeruaklah aroma khas, tak
asing bagiku. Benar saja, sup hangat dalam plastik bening. Kutumpahkan pada
piring plastik hingga memenuhi 90% bagiannya. Asap sup mengelabui gubuk kami.
“Kek, mbak Lono tadi ngasih makanan
ini. Kakek makan ya.” Kakek masih tidak ingin berbicara. ‘Ada apa dengan
kakek?’ Aku menyuapi beberapa sendok sup pada kakek yang masih berbaring. Kakek
menolak suapan keenam. Dua suap selanjutnya, aku tuangkan ke mulutku.
“Assalamu’alaikum! Nak, Ridho,”
Terdengar suara panggilan serta ketukan di balik pintu. “Wa’alaikum salam.” Ya,
pak Dasep. Sosok baik hati yang setiap hari selalu dating ke gubuk kami untuk
menjaga kakek selama dua jam saja. Sementara, aku mencari koin dan lembaran
uang.
Kali ini, pak Dasep membawa tumpukan
buku tebal. ‘Untuk apa ya, pak Dasep bawa buku?’ Pertanyaan-pertanyaan mulai
muncul dari benakku.
“Pak, buku-buku itu buat apa ya,
pak?”
“Semua buku ini untukmu. Sebagai
pengganti sekolah. Dibaca ya. Kalau tidak mengerti, tanyakan pada bapak saja.
Atau kamu boleh ikut sekolah gratis di rumah bapak. Keburu siang, udah cepat
berangkat.”
“Iya, pak. Terima kasih sekali, pak.
Masalah sekolah, Ridho masih pikir-pikir. Karena cukup banyak yang harus
dipertimbangkan. Ridho titip kakek ya, pak. Supnya tolong kasihin ke kakek.
Tadi baru beberapa suap. Kek, Ridho izin pergi. Sebentar kok, kek. Kakek
hati-hati di rumah.”
Kakek tetap tidak mencurahkan kata
per kata. Masih membisu dan hanya menatapku lesu. Jujur, aku tidak tega
membiarkan kakek di gubuk kesepian. Walaupun, ada pak Dasep, aku rasa
kehadiranku di sisi kakek lebih berharga daripada pak Dasep. Aku segera pulang,
kek ….
Dua jam yang penuh arti dan makna.
Pemanfaatan waktu efisien serta intensif, sangat kubutuhkan.
Aku mencari beberapa bagian tumbuhan
khusus, guna dijadikan lidi. Ditampung pada karung besar nan buluk. Singgah dan
berkeliling di hutan kelam, tanpa kawan seorangpun. Membayangkan binatang buas,
menerkamku dari belakang. Atau sosok misterius mencengkeram leherku dengan
kuat. Aarrrghh …. Kakek …. Walaupun, aku telah menginjak usia 18 tahun, tapi
kodrat manusia adalah memiliki rasa takut.
Setelah kembali dari hutan, aku
mendatangi rumah pak Shaleh. Pak haji yang selalu terlihat ikhlas meminjamkan
motor matiknya, untuk kujadikan sebagai alat pemenuh kebutuhan hidup. Aku
mengangkut orang-orang/barang-barang ke tempat tujuannya masing-masing. Dengan
kata lain, aku ngojeg.
Barang bawaanku (tumbuhan untuk lidi)
aku simpan di rumah pak haji Shaleh. Selain meminjamkan motornya, pak haji yang
gemar tersenyum ini juga setiap minggunya memberikan sedikit uang jajan
untuknya. Dapat menutupi hutang-hutangku di warung mbak Lono, atau membeli
beberapa butir beras.
Aku mangkal di pangkalan ojeg yang
tak jauh dari pasar tradisional. Banyak ibu rumah tangga, memintaku mengangkut
barang belanjaan ke rumahnya. Melewati jalanan terjal mendaki, dan curam
menurun. Demi kakek ….
‘Hari ini, uang yang kudapat cukup,
sebagai penutup hutang-hutang. Sisanya akan kusimpan untuk membawa kakek ke
dokter.’
Jika kakek mendapat sebuah derita,
maka aku yang memperoleh 10 kali lipat derita kakek. Dua jam terlampaui. Dengan
sigapnya, aku mendatangi rumah pak Shaleh untuk mengembalikan motornya dan
mengambil barang bawaanku.
Aku berlari dengan kecepatan
termaksimalku. Berusaha tidak terlambat sampai gubuk. Takut-takut, pak Dasep
telah pulang kembali ke tempat kerjanya.
“Kakek …!”
“Nak, Ridho. Sudah pulang ya. Supnya
belum juga habis, nak. Dari tadi, beliau menggigil. Bapak berniat membawanya ke
dokter. Tapi, beliau menolak. Coba, bujuk oleh nak Ridho ya.”
“Kakek gapapa, Ridho. Cuma
kedinginan. Kakek mau tidur!” Aku baru mendengar suara lemah kakek. Setelah
sekian jam tidak melesatkan bunyi pita suaranya.
“Bapak gak bisa lama, nak. Kerjaan
bapak terlalu lama ditinggal. Bapak harap, secepatnya kakekmu dibawa ke dokter.
Baju hangat itu milik bapak, biarkan saja kakek yang memakai ….
Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikum salam.”
Hanya aku dan kakek. Kakek tertidur pulas
di bawah selimut tipis. Entahlah, apakah mengatasi kedinginan kakek atau tidak.
Aku mengoyak lembut tubuh kakek, “Kek, kita ke dokter ya, kek. Ridho pengen
kakek sembuh.”
“Gak, Ridho. Kakek hanya butuh
istirahat.”
Aku bingung harus melakukan apa. Kakek
tetap menolak ke dokter. Lindungi kakek, ya Allah ….
Aku mengangkut sisa tumbuhan (untuk
lidi) dari belakang gubuk, dan disatukan dengan tumbuhan yang baru aku bawa
dari hutan ke tikar dekat kasur baringan kakek. Sedangkan, buku-buku dari pak
Dasep masih menumpuk tinggi di sebelah kiriku.
Lidi-lidi yang tersedia, aku rajut
sedemikian rupa, dihubungkan antar lidi, hingga membentuk sapu lidi. Kakek
terbangun, “Ridho, besok kamu sekolah di rumah pak Dasep, ya. Kakek ingin liat
dan memastikan kamu mendapat pendidikan seperti anak-anak seusia kamu.”
“Seumur Ridho, udah gak pantes
sekolah, kek. Memang seharusnya Ridho kerja.”
“Gak, gak Ridho. Kamu harus sekolah
besok. Kakek sendiri di rumah juga gak papa.”
Aku tidak mampu melawan ucapan
kakek. Sekolah? Itu bukan pikiranku. Aku bisa belajar di rumah, tanpa harus
menonjolkan kesepian kakek.
Beberapa sapu lidi telah terikat
dengan rapi, dan siap untuk dijajakan ke khalayak umum. Aku menjual seluruh
sapu lidi ke pasar, ketika waktu dua jam dilemparkan pak Dasep di setiap
harinya. Di samping itu, aku menyempatkan diri membaca buku yang kuperoleh dari
pak Dasep.
Malam berganti pagi. Sejuknya suhu,
tidak mempengaruhi akan kepastian indahnya hariku. Kerja keras dua jam di luar
gubuk, ditambah bergeming dengan lidi-lidi.
Kakek menagih permintaannya padaku,
“Kok kamu belum siap-siap, Ridho? Ini kan hari pertama kamu sekolah.”
Aku meresapi dan menanti jawaban
yang akan terkuak dari otakku. Tak kunjung ada. Apa harus kutanya pada batin?
“Kek, sungguh Ridho gak rela,
ninggalin kakek sendiri. Bukannya Ridho gak nurut sama kakek. Tapi ….”
Lama kelamaan, wajah kakek tampak
sangat pucat. Aku mencoba menyentuh kening dan beberapa bagian tubuh kakek.
Astaghfirullah, sangat dingin.
“Kakek, kakek kenapa? Badan kakek
dingin sekali. Apa yang kakek rasain sekarang, kek?”
Kakek tidak menghiraukanku. Bola
mata kakek tersembunyi di balik kelopaknya. Hembusan angin di hidung kakek
masih menarik ulur udara sekitar. Kakek tidak mengerang kesakitan. Oleh sebab
itu, aku optimis kakek baik-baik saja, walaupun kemarin beliau meriang.
Namun, kakek terlihat begitu lemah.
Sesekali, beliau mengangkat kelopak mata, sepertinya berat.
Tak satu patah katapun terungkap.
Aku panik, menggenggam erat tangan kakek. Berharap, Allah SWT meluncurkan
keajaibannya. Bibir kakek mulai berkutik, berusaha mengucapkan lafadz Allah.
“Laa ilaahaillallah ….” 3 kali, kakek berucap dengan lafal jelas, hanya
kesulitan kecil yang dapat teratasi. Helaan nafas kakek terengang, dan ….
“Kakek !!!”
Tidak ada lagi desahan dari hidung
kakek. Denyut nadi, hilang.
Aku menangis. Meratap dengan penuh
kekecewaan. Permintaan terakhir kakek, yang belum aku wujudkan. Sekolah.
Mengenyam pendidikan kembali. Aku menyesal, sangat menyesal. Jika aku tau akan
seperti ini, aku akan sekolah di rumah pak Dasep, malam itu juga. Tanpa harus
berjua dengan pagi. Secuil waktu, yang aku minta dari-Mu, untuk bisa memenuhi
keinginan kakek. Sia-sia. Inilah kehendak Allah SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar