Jumat, 04 Mei 2012

SECUIL WAKTU


Lentiknya ruang nan memberikan atap mungil, beserta kedipan gelap benda sekitar. Aku dan kakek menikmati gundukan-gundukan singkong, beralaskan tikar butut yang di setiap sudutnya terdapat lubang-lubang besar berdiameter sekitar 10 cm. Gemerlap bintang seakan-akan terhipnotis pada canda tawa kami. Kerlipannya, bak menebar senyum berseri maksimal. Radio tua bersuara parau, tersandar di dinding lembab.

            “Ridho, cucuku. Kakek prihatin denganmu. Sekolahmu terbengkalai, sejak kepergian kedua orangtuamu menghadap sang khalik 4 tahun lalu. Bagaimana dengan masa depanmu kelak?” Kata-kata tersebut dilontarkannya, sembari memasukkan gunduk demi gunduk singkong ke dalam mulut keriputnya. Tampak sekali, gigi yang masih tersisa 1 mm itu, kesulitan mengunyah kerasnya makanan tunggal dalam gubuk.
            “Kek, Ridho gak pernah mempermasalahkan soal pendidikan. Ridho selalu ikhlas membantu kakek. Tenang aja, kek. Gak perlu kakek pikirin. Kek, suara penyanyi nasyidnya merdu banget ya.” Aku mengalihkan pembicaraan ke arah lagu nasyid radio di sampingku. Memang indah terdengar pendengaran, namun akan lebih sempurna bila tidak ada kerusakan teknik pada radio jadul itu. Kakek menyunggingkan senyumannya, yang terlihat lucu. Gigi 1 mm-nya terbungkus bibir. Sedikitpun, tidak mengurangi rasa ketentraman batin terdalam kami.
            Malam semakin larut. Senyapnya sunyi selalu mengingatkanku akan penuhnya deadline bekerja. Seperti hari-hari sebelumnya, besok aku akan menyibukkan diri dengan membantu kakek membuat sapu lidi, hingga fajar terbenam. Ya, mengumpulkan kekuatan jasmani, demi mendapatkan uang makan.
            Kasur kapuk yang tergeletak di lantai semen nan dingin, telah terbiasa dilalui. Sepetak kasur mini, tidak akan pernah muat untuk kami berdua. Aku mengalah terhadap kakek, dengan memilih berbaring pada tikar berlubang serbaguna. Di setiap malam, pasti ada saja debat lunak antaraku dan kakek. Beliau selalu menolak lelap di kasur. Tapi, sayangnya aku lebih kuat dalam hal berargumentasi.
“””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””
            Ayam jago tetangga telah bergumam keras, “Kukuruyuuuuuuuukkk!”
            Denyut nadi yang masih berdiskusi ria bersama darah, memerlukan waktu lama untuk kembali pada kinerja kerja sesungguhnya.
            Setelah menunaikan shalat shubuh, kakek diam-diam melangkah tertatih menuju sisa kumpulan bagian-bagian tumbuhan yang mesti diolah menjadi lidi. Pengolahan dilakukan secara manual. Tangan kurus, ibarat kulit pembungkus tulang, bergerak lincah menggeliatkan tahap demi tahap proses pembentukan lidi. Menyeruak urat mengiringi tulang.
            Aku terkecoh. Tak kira, kakek masih bertilawah Al-Qur’an. Namun, ternyata telah asik bergelut dengan lidi di belakang gubuk. Aku yang baru tiba dari jamban berjarak 10 meter dari posisiku kini, segera meminta kakek agar beristirahat saja di tengah kondisi kesehatan labilnya.
            “Kek, kakek harusnya istirahat. Lidi ini mah bisa nanti siang. Pagi-pagi gini tu, masih dingin sekali, kek. Gak baik untuk kesehatan kakek.” Aku menggapai tangan kakek, untuk ku tarik ke dalam gubuk.
            “Setidaknya, berangsur-angsur. Beberapa sapu lidi akan terbentuk dan bisa kita jual, Ridho. Uhuuukk, uhuuuuukkk!” Kakek menempelkan tangan ke rusuk dadanya. Menahan sakit sesak, yang menimbulkan suara ngiung-ngiung.
            “Tuh kan, kek. Ridho bilang apa!” Aku membimbing kakek dan membaringkannya ke atas kasur tak nyaman. Menyelimutkan kain panjang tipis ke permukaan tubuh kakek. Dalam beberapa detik, beliau terhanyut dalam lelap.
            Aku tidak rela, jika harus meninggalkan kakek sendiri dalam gubuk, demi mendapat dua pinggan nasi. Atau sekadar, sepinggan nasi untuk kakek seorang.
            “Ya Allah, kakek belum makan pagi ini.” (aku berpikir sejenak) “Ya Allah. Aku titip kakek sebentar. Aku mau mencari makanan. Jaga kakek, ya Allah. Aku mohon!”
            Aku berlari menuju warung mbak Lono, warung desaku satu-satunya yang letaknya di sekitar ujung jalan. Berlari sekencang mungkin, hingga tak tampak batu besar berjari-jari 20 cm terpampang di hadapanku. Aku masih berlari, dan …. Dluggg …. Kakiku menyandung batu-batu itu. Hidung wajahku terbanting pada permukaan tanah tak rata yang dipenuhi batu-batu berukuran kecil, sedang serta cukup besar.
            Kakek … Teringat aku akan beliau. Aku terbangun kembali dari jatuhanku dan berlari, berlari dan terus berlari melewati sawah-sawah kering layu. Namun, warung mbak Lono belum juga tampak. Tenagaku mulai terkuras habis.
            Ketika sampai di warung tujuanku, mbak Lono memberikan sapaan hangat yang disertai dengan senyuman manis bibirnya. “Kenapa kamu ngos-ngosan begitu?”
            “Mbak, tolongin Ridho. Kakek tadi batuk-batuk dan sekarang lagi tidur. Kayanya kakek sangat lelah, mbak. Kakek belum makan sama sekali. Ridho takut, kalau kalau kakek gak makan, akan memperburuk keadaan kakek. Ridho boleh ngutang lagi, mbak?”
            Wanita muda berpakaian kebaya tua ini, nampak bersimpati padaku. Ia masuk ke dalam pondoknya, dan keluar membawa sebuah kantong hitam padat di tangan kanan halusnya.
            “Ambil ini! Untukmu dan kakekmu.”
            “Terima kasih banyak, mbak. Nanti setelah Ridho ngojeg, bakalan Ridho bayar. Mbak tidak usah risau.”
            “Mbak ikhlas ngasih kamu. Tidak perlu diganti. Ayo, cepat pulang sana, kasian kakekmu sendiri.”
            “Sekali lagi, terima kasih banyak, mbak.”
            Langkahanku terseok-seok menjauhi warung mbak Lono. Rasanya, kaki ini ingin bergolek sekejap di pelataran tanah. Tapi, tidak mungkin. Aku sangat mengkhawatirkan kakek. Tunggu, Ridho. Sebentar lagi, Ridho sampai, kek!
            Tulang hidungku menjerit kesakitan. Entah, sepertinya beberapa detik lagi, hidungku akan remuk, terurai menjadi kepingan-kepingan.
            Aku membuka pintu lapuk gubukku yang tidak terkunci. Dan duduk tepat di sebelah kakek. “Kek, bangun. Kita makan dulu.” Kelopak mata kakek terangkat sedikit demi sedikit, yang kemudian terhenti di pertengahan hamparan kornea.
            “Kek, makan ya. Ridho mindahin makanannya ke piring dulu.” Kakek hanya terdiam. Rahangnya sama sekali tak tergerak. Hanya sesekali melimpahkan kedipan mata.
            Aku beranjak menghampiri kumpulan peralatan makan, mengambil sebuah piring plastik kummel yang telah dicuci satu minggu lalu. Ikatan plastik hitam itu, kubuka. Menyeruaklah aroma khas, tak asing bagiku. Benar saja, sup hangat dalam plastik bening. Kutumpahkan pada piring plastik hingga memenuhi 90% bagiannya. Asap sup mengelabui gubuk kami.
            “Kek, mbak Lono tadi ngasih makanan ini. Kakek makan ya.” Kakek masih tidak ingin berbicara. ‘Ada apa dengan kakek?’ Aku menyuapi beberapa sendok sup pada kakek yang masih berbaring. Kakek menolak suapan keenam. Dua suap selanjutnya, aku tuangkan ke mulutku.
            “Assalamu’alaikum! Nak, Ridho,” Terdengar suara panggilan serta ketukan di balik pintu. “Wa’alaikum salam.” Ya, pak Dasep. Sosok baik hati yang setiap hari selalu dating ke gubuk kami untuk menjaga kakek selama dua jam saja. Sementara, aku mencari koin dan lembaran uang.
            Kali ini, pak Dasep membawa tumpukan buku tebal. ‘Untuk apa ya, pak Dasep bawa buku?’ Pertanyaan-pertanyaan mulai muncul dari benakku.
            “Pak, buku-buku itu buat apa ya, pak?”
            “Semua buku ini untukmu. Sebagai pengganti sekolah. Dibaca ya. Kalau tidak mengerti, tanyakan pada bapak saja. Atau kamu boleh ikut sekolah gratis di rumah bapak. Keburu siang, udah cepat berangkat.”
            “Iya, pak. Terima kasih sekali, pak. Masalah sekolah, Ridho masih pikir-pikir. Karena cukup banyak yang harus dipertimbangkan. Ridho titip kakek ya, pak. Supnya tolong kasihin ke kakek. Tadi baru beberapa suap. Kek, Ridho izin pergi. Sebentar kok, kek. Kakek hati-hati di rumah.”
            Kakek tetap tidak mencurahkan kata per kata. Masih membisu dan hanya menatapku lesu. Jujur, aku tidak tega membiarkan kakek di gubuk kesepian. Walaupun, ada pak Dasep, aku rasa kehadiranku di sisi kakek lebih berharga daripada pak Dasep. Aku segera pulang, kek ….
            Dua jam yang penuh arti dan makna. Pemanfaatan waktu efisien serta intensif, sangat kubutuhkan.
            Aku mencari beberapa bagian tumbuhan khusus, guna dijadikan lidi. Ditampung pada karung besar nan buluk. Singgah dan berkeliling di hutan kelam, tanpa kawan seorangpun. Membayangkan binatang buas, menerkamku dari belakang. Atau sosok misterius mencengkeram leherku dengan kuat. Aarrrghh …. Kakek …. Walaupun, aku telah menginjak usia 18 tahun, tapi kodrat manusia adalah memiliki rasa takut.
            Setelah kembali dari hutan, aku mendatangi rumah pak Shaleh. Pak haji yang selalu terlihat ikhlas meminjamkan motor matiknya, untuk kujadikan sebagai alat pemenuh kebutuhan hidup. Aku mengangkut orang-orang/barang-barang ke tempat tujuannya masing-masing. Dengan kata lain, aku ngojeg.
            Barang bawaanku (tumbuhan untuk lidi) aku simpan di rumah pak haji Shaleh. Selain meminjamkan motornya, pak haji yang gemar tersenyum ini juga setiap minggunya memberikan sedikit uang jajan untuknya. Dapat menutupi hutang-hutangku di warung mbak Lono, atau membeli beberapa butir beras.
            Aku mangkal di pangkalan ojeg yang tak jauh dari pasar tradisional. Banyak ibu rumah tangga, memintaku mengangkut barang belanjaan ke rumahnya. Melewati jalanan terjal mendaki, dan curam menurun. Demi kakek ….
            ‘Hari ini, uang yang kudapat cukup, sebagai penutup hutang-hutang. Sisanya akan kusimpan untuk membawa kakek ke dokter.’
            Jika kakek mendapat sebuah derita, maka aku yang memperoleh 10 kali lipat derita kakek. Dua jam terlampaui. Dengan sigapnya, aku mendatangi rumah pak Shaleh untuk mengembalikan motornya dan mengambil barang bawaanku.
            Aku berlari dengan kecepatan termaksimalku. Berusaha tidak terlambat sampai gubuk. Takut-takut, pak Dasep telah pulang kembali ke tempat kerjanya.
            “Kakek …!”                       
            “Nak, Ridho. Sudah pulang ya. Supnya belum juga habis, nak. Dari tadi, beliau menggigil. Bapak berniat membawanya ke dokter. Tapi, beliau menolak. Coba, bujuk oleh nak Ridho ya.”
            “Kakek gapapa, Ridho. Cuma kedinginan. Kakek mau tidur!” Aku baru mendengar suara lemah kakek. Setelah sekian jam tidak melesatkan bunyi pita suaranya.
            “Bapak gak bisa lama, nak. Kerjaan bapak terlalu lama ditinggal. Bapak harap, secepatnya kakekmu dibawa ke dokter. Baju hangat itu milik bapak, biarkan saja kakek yang memakai …. Assalamu’alaikum!”
            “Wa’alaikum salam.”
            Hanya aku dan kakek. Kakek tertidur pulas di bawah selimut tipis. Entahlah, apakah mengatasi kedinginan kakek atau tidak. Aku mengoyak lembut tubuh kakek, “Kek, kita ke dokter ya, kek. Ridho pengen kakek sembuh.”
            “Gak, Ridho. Kakek hanya butuh istirahat.”
            Aku bingung harus melakukan apa. Kakek tetap menolak ke dokter. Lindungi kakek, ya Allah ….
            Aku mengangkut sisa tumbuhan (untuk lidi) dari belakang gubuk, dan disatukan dengan tumbuhan yang baru aku bawa dari hutan ke tikar dekat kasur baringan kakek. Sedangkan, buku-buku dari pak Dasep masih menumpuk tinggi di sebelah kiriku.
            Lidi-lidi yang tersedia, aku rajut sedemikian rupa, dihubungkan antar lidi, hingga membentuk sapu lidi. Kakek terbangun, “Ridho, besok kamu sekolah di rumah pak Dasep, ya. Kakek ingin liat dan memastikan kamu mendapat pendidikan seperti anak-anak seusia kamu.”
            “Seumur Ridho, udah gak pantes sekolah, kek. Memang seharusnya Ridho kerja.”
            “Gak, gak Ridho. Kamu harus sekolah besok. Kakek sendiri di rumah juga gak papa.”
            Aku tidak mampu melawan ucapan kakek. Sekolah? Itu bukan pikiranku. Aku bisa belajar di rumah, tanpa harus menonjolkan kesepian kakek.
            Beberapa sapu lidi telah terikat dengan rapi, dan siap untuk dijajakan ke khalayak umum. Aku menjual seluruh sapu lidi ke pasar, ketika waktu dua jam dilemparkan pak Dasep di setiap harinya. Di samping itu, aku menyempatkan diri membaca buku yang kuperoleh dari pak Dasep.
            Malam berganti pagi. Sejuknya suhu, tidak mempengaruhi akan kepastian indahnya hariku. Kerja keras dua jam di luar gubuk, ditambah bergeming dengan lidi-lidi.
            Kakek menagih permintaannya padaku, “Kok kamu belum siap-siap, Ridho? Ini kan hari pertama kamu sekolah.”
            Aku meresapi dan menanti jawaban yang akan terkuak dari otakku. Tak kunjung ada. Apa harus kutanya pada batin?
            “Kek, sungguh Ridho gak rela, ninggalin kakek sendiri. Bukannya Ridho gak nurut sama kakek. Tapi ….”
            Lama kelamaan, wajah kakek tampak sangat pucat. Aku mencoba menyentuh kening dan beberapa bagian tubuh kakek. Astaghfirullah, sangat dingin.
            “Kakek, kakek kenapa? Badan kakek dingin sekali. Apa yang kakek rasain sekarang, kek?”
            Kakek tidak menghiraukanku. Bola mata kakek tersembunyi di balik kelopaknya. Hembusan angin di hidung kakek masih menarik ulur udara sekitar. Kakek tidak mengerang kesakitan. Oleh sebab itu, aku optimis kakek baik-baik saja, walaupun kemarin beliau meriang.
            Namun, kakek terlihat begitu lemah. Sesekali, beliau mengangkat kelopak mata, sepertinya berat.
            Tak satu patah katapun terungkap. Aku panik, menggenggam erat tangan kakek. Berharap, Allah SWT meluncurkan keajaibannya. Bibir kakek mulai berkutik, berusaha mengucapkan lafadz Allah. “Laa ilaahaillallah ….” 3 kali, kakek berucap dengan lafal jelas, hanya kesulitan kecil yang dapat teratasi. Helaan nafas kakek terengang, dan ….
            “Kakek !!!”
            Tidak ada lagi desahan dari hidung kakek. Denyut nadi, hilang.
            Aku menangis. Meratap dengan penuh kekecewaan. Permintaan terakhir kakek, yang belum aku wujudkan. Sekolah. Mengenyam pendidikan kembali. Aku menyesal, sangat menyesal. Jika aku tau akan seperti ini, aku akan sekolah di rumah pak Dasep, malam itu juga. Tanpa harus berjua dengan pagi. Secuil waktu, yang aku minta dari-Mu, untuk bisa memenuhi keinginan kakek. Sia-sia. Inilah kehendak Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar